divaksin covid 19 vaksin (1)
February 9, 2021

Homecare24.id – Setelah lebih dari 10 bulan pandemi Covid-19 ‘menyerang’ Indonesia, akhirnya mulai Januari 2021 program vaksinasi mulai dilaksanakan. Pemberian suntikan vaksin menjadi salah satu solusi yang akan dilakukan untuk meredakan serangan pandemi Covid-19. Tapi apakah setelah divaksin berarti akan kebal dari Covi-19? Sehingga kita sudah bisa bebas sesukanya beraktivitas sediakala?

Dikutip dari Healthline, sebuah vaksin berfungsi untuk mendorong sistem kekebalan tubuh dengan membuat antibodi yang akan melawan penyakit tertentu. Namun, berdasarkan informasi dari laman resmi Satgas Covid-19, seseorang yang sudah divaksin bukan berarti 100% kebal terhadap Covid-19. Ini berarti meski sudah diberi vaksin, masih ada kemungkinan seseorang dapat terinfeksi Covid-19. Hal tersebut juga diamini oleh Ketua ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) Prof Dr Sri Rezeki S Hadinegoro, yang menyebutkan seseorang tidak langsung 100 persen kebal setelah disuntik vaksin Covid-19.

Baca juga : Saat Divonis Positif Covid 19, Ini Yang Harus Dilakukan

Lalu apa manfaatnya bagi orang yang sudah divaksin Covid-19? Meski tidak menjamin 100% kebal terhadap infeksi virus Corona, namun mereka yang sudah divaksin Covid-19 jika terinfeksi virus Corona jenis baru maka tingkat keparahannya tak separah mereka yang tak mendapat vaksin.

Seperti yang diungkapkan Dr Sri Rezeki,  Vaksin perlu waktu untuk meningkatkan antibodi di dalam tubuh. “Jadi kalaupun ia sudah divaksin dan andai terkena COVID-19 maka tidak berat kalau dia memang imun, karena kita tidak bisa tahu apakah virus yang kena itu ganas,” tambahnya. Dia juga menjelaskan bahwa perlu dua kali pemberian vaksinasi. “Setelah disuntik dua kali vaksin, itu kita nggak langsung tinggi antibodinya, kita perlu waktu untuk meningkatkan antibodi, paling tidak setelah dua kali suntik itu 14 hari sampai 1 bulan baru dia maksimal antibodi,” tambahnya.

Seberapa efektifkah Vaksin Covid-19?

Hingga saat ini masih banyak pula yang meragukan soal seberapa efektifitas vaksin yang berbedar saat ini dalam melawan Covid-19. Bahkan masih banyak yang beranggapan pemberian vaksin tahap awal ini masih sekadar coba-coba karena belum diketahui seberapa hebat kemampuannya.

Tingkat kemampuan atau seberapa efektif vaksin mampu melawan infeksi virus, dapat diketahui pada nilai efikasi dari vaksin. Nah, vaksin yang beredar di Indonesia saat ini yaitu Sinovac yang berasal Cina. Tim peneliti di Bandung sudah melakukan uji klinis fase tiga vaksin Sinovac menemukan angka efikasi mencapai 65,3 persen. Artinya vaksin Sinovac bisa menurunkan risiko infeksi Covid-19 sampai 65,3 persen pada tubuh yang disuntik vaksin ini.

Baca juga : Mengenal Layanan Home Care, Nyamannya Perawatan di Rumah

Kok kecil ya angka efikasinya ? Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K. Lukito, menjelaskan dengan efikasi 65,3 persen, vaksin Sinovac tersebut sudah memenuhi standar pemberian izin darurat atau atau emergency use authorization. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui memberi syarat vaksin harus memiliki efikasi minimal 50 persen untuk sebuah vaksin bisa mulai digunakan dengan izin emergency use authorization.

Meski masih mengantongi izin emergency use authorization , namun Penny meyakinkan bahwa vaksin ini dinilai cukup mampu untuk menurunkan tingkat infeksi Covid-19. Lebih lanjut dijelaskan bahwa vaksin Covid-19 Sinovac yang diuji di Bandung dan sudah uji coba divaksin ke beberapa relawan, dilaporkan berhasil membentuk antibodi pada 99,23 persen pada subjek penelitian setelah tiga bulan penyuntikan dosis kedua.

Baca juga : Plus Minus Rapid Test, Swab Antigen dan Swab PCR

Namun yang perlu diingat, untuk mendapatkan kemampuan vaksin dalam menangkal infeksi Covid-19, perlu melakukan dua kali vaksinasi dengan jeda waktu tertentu. Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni) Iris Rengganis mengatakan suntikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac harus dilakukan dua kali agar dapat memastikan vaksin tersebut efektif dalam membentuk antibodi.

Lebih lajut, dia menyebut proses penyuntikkan juga tidak dapat dilakukan dalam satu kali dengan menggunakan dua dosis sekaligus. Menurutnya, suntikan vaksin Covid-19 harus dilakukan secara bertahap.  “Tunggu 2 minggu, 3M tetap kita pakai. Nanti antibodi akan full setelah dua kali suntik atau full dozed. Paling tidak setelah 2 kali suntik butuh 14 hari sampai 1 bulan baru dia maksimal antibodi” lanjutnya. Jadi, jangan sampai berpikir bila sudah sekali divaksin maka sudah aman dari penularan Covid-19, lalu tidak menerapkan protokol kesehatan 3M lagi.