vaksin astrazeneca
June 17, 2021

Banyak yang ragu melakukan vaksinasi Covid 19 jika harus menggunakan vaksin Astrazeneca.

Program vaksinasi Covid 19 masih terus dilakukan di Indonesia. Sejauh ini masih menggunakan vaksin Sinovac dan vaksin Astrazeneca. Setelah pada awalnya memprioritaskan mereka yang berada di garda terdepan, seperti tenaga medis, TNI, Polri dan lainnya, program vaksinasi mulai menyasar golongan masyarakat lainnya. Mulai dari lansia, pekerja yang berada di lini terdepan, pekerja seni hingga saat ini sudah mulai dibuka kesempatan untuk mereka yang berusia di atas 18 tahun. 

Adapun jenis vaksin Covid 19 yang digunakan di Indonesia yaitu Sinovac. Kemudian belakangan ini menyusul vaksin Sinopharm (untuk vaksinasi mandiri) dan vaksin Astrazeneca juga sudah mulai digunakan pada program vaksinasi Covid 19.

Baca juga : Sudah 2 Kali Divaksin Covid 19 Masih Bisa Tertular, Ini Penyebabnya!

Namun ternyata masih banyak masyarakat yang enggan untuk melakukan vaksinasi. Ini lantaran mereka khawatir dengan beberapa kejadian efek samping yang dialami beberapa orang setelah melakukan vaksinasi.

Dan belakangan ini kekhawatiran tersebut semakin meningkat terutama pada penggunaan vaksin Astrazeneca. Lantaran adanya beberapa kasus Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) yang diderita mereka yang sudah diberikan vaksin asal Eropa tersebut. Banyak yang mengalami efek samping demam, panas, badan pegal setelah melakukan vaksinasi menggunakan Astrazeneca. Juga muncul informasi adanya efek pembekuan darah dan penurunan jumlah trombosit atau keping darah.

Bahkan sempat ada kasus meninggal dunia setelah mendapatkan Astrazeneca. Bahkan beberapa waktu lalu ada batch tertentu dari vaksin Astrazeneca yang sempat dihentikan penggunaannya akibat banyak yang mengalami gejala KIPI.

Fakta Yang Perlu Diketahui

Sebenarnya, bagaimanakah fakta mengenai keamanan vaksin AstraZeneca untuk COVID-19? Berikut ini beberapa fakta seputar vaksin Astrazeneca :

  1. Asal Usul

Vaksin Astrazeneca dibuat oleh perusahaan farmasi asal Inggris, yaitu AztraZeneca, yang bekerjasama dengan Universitas Oxford. Vaksin dibuat dari hasil rekayasa genetika (viral vector) dari virus flu biasa yang tidak berbahaya.

2. Efikasi

Vaksin AstraZeneca bekerja dengan cara merangsang tubuh untuk membentuk antibodi yang dapat melawan infeksi virus Covid 19. Dan setelah melalui beberapa fase uji klinis, disimpulkan efikasi atau tingkat efektifitas AstraZeneca untuk melawan penyakit COVID-19 mencapai 63–75%.

Baca juga : 8 Fakta Vaksin Gotong Royong yang Perlu Diketahui

3. Lulus Uji Klinis

Vaksin AstraZeneca ini telah lolos uji klinis dan sudah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin ini juga sudah mengantongi emergency use listing dari organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization). Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun sudah mengeluarkan fatwa bahwa vaksin ini halal untuk digunakan.

Uji klinis dilakukan pada total 23.745  subjek dengan menggunakan 2 dosis vaksin AstraZeneca dengan jarak waktu penyuntikan 4-12 minggu. Dan hasilnya terbukti aman, dengan efek samping yang dapat ditoleransi dengan baik.

4. Efektif Melawan Covid 19

Berdasarkan hasil uji klinis, WHO juga sudah menyatakan bahwa AstraZeneca dinilai efektif untuk melindungi masyarakat dari risiko Covid 19 yang sangat serius, seperti rawat inap, penyakit parah hingga mencegah kematian.

5. Efek Samping

Sama seperti vaksin Covid 19 lainnya, vaksin AstraZeneca juga dapat menimbulkan efek samping bagia sebagian orang atau juga dikenal dengan sebutan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) . Namun, biasanya efek samping ini hanya bersifat ringan hingga sedang, dan akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Adapun beberapa efek samping yang umum terjadi setelah disuntikkan vaksin AstraZeneca, antara lain yaitu :

  • Nyeri, memar atau bengkak pada bagian yang disuntik
  • Demam atau badan panas
  • Menggigil
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Nyeri sendi dan otot

Ada juga efek lain yang terbilang jarang terjadi, seperti muntah, diare atau penggumpalan darah. Selain itu jika setelah mendapatkan AstraZeneca mengalami gejala efek samping lain yang lebih parah, seperti nyeri dada, jantung berdebar, kaki atau tangan sulit digerakkan, sakit kepala yang hebat, penglihatan kabur, sesak napas, sakit perut, pembengkakan tungkai atau pingsan, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan secepatnya.

Juga jangan lupa menghubungi nomor telepon yang dicantumkan pada berkas yang diberikan setelah vaskinasi.  “Untuk menghindari kasus KIPI yang fatal, penerima vaksin perlu mewaspadai sejumlah gejala berat. Kalau itu terjadi, agar segera melapor ke kontak yang tertera di kartu vaksinasi, atau fasilitas kesehatan terdekat.” Ujar Ketua Komnas KIPI, Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp. A(K), M.

Baca juga : Mengenal Vaksin Sinopharm, Yang Digunakan pada Vaksinasi Gorong Royong

6. Efek Pembekuan darah

Vaksin Astrazeneca juga dikaitkan dengan kejadian pembekuan darah setelah melakukan vaksinasi. Namun European Medicines Agency (EMA) mengatakan bahwa inidikasi adanya pembekuan darah setelah disuntikkan AstraZeneca merupakan kasus yang sangat jarang terjadi, yaitu hanya pada 1 dari 100.000 orang yang divaksinasi.Penyakit pembekuan darah sebenarnya bisa terjadi karena banyak faktor, seperti kebiasaan merokok, kelainan darah, atau efek samping obat-obatan.Jadi tidak serta-merta akibat vaksinasi.

7. Paling Banyak Digunakan

Dibandingkan dengan jenis vaksin Covid 19 lainnya, vaksin AstraZeneca paling banyak digunakan di berbagai negara di dunia. Hingga saat ini, lebih dari satu miliar dosis vaksin AstraZeneca sudah digunakan.

8. Sempat Dihentikan, Kini Dibolehkan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan Laporan Pengujian vaksin AstraZeneca (batchCTMAV 547) yang sebelumnya sempat dihentikan penggunaanya. Ini akibat muncul laporan bawah ada gejala efek samping setelah divaksinasi hingga mengakibatkan kematian.

Dari laporan tersebut disimpulkan toksisitas abnormal dan sterilitas AstraZeneca (batch CTMAV 547) sudah memenuhi syarat mutu dan aman digunakan. Berdasarkan hasil pengujian, diketahui bahwa tidak ada keterkaitan antara mutu vaksin Astrazeneca (batch CTMAV547) dengan kejadian kematian yang dilaporkan tersebut. Untuk itu, vaksin AstraZeneca (batch CTMAV547) dapat digunakan kembali. Selain itu juga ditegaskan bahwa vaksin AstraZeneca selain batch CTMAV547, tetap aman digunakan sehingga masyarakat tak perlu ragu.

Baca juga : Gawat! 4 Varian Baru Covid 19 Lebih Ganas Sudah Masuk ke Indonesia

9. Tidak Mengakibatkan Kematian

Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Irawan Satari mengungkapkan menerima 30 laporan kematian paska penyuntikan vaksin Covid 19. Sebanyak 27 di antaranya terjadi pada penerima vaksin Sinovac, dan 3 pada terjadi pada penerima vaksin AstraZeneca.

Namun setelah dilakukan pengkajian terhadap kasus tersebut, ternyata kejadian itu tidak terkait dengan pemberian vaksin Covid 19. Berdasarkan laporan dari Komnas KIPPI berikut penyebab dari 30 kejadian kematian paska vaksinasi :

27 orang penerima vaksin Sinovac :

  • 10 orang karena terinfeksi COVID-19
  • 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah
  • 1 orang karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak
  • 2 orang diabetes melitus, dan hipertensi yang tidak terkontrol.

3 orang penerima vaksin Astrazeneca :

  • 1 orang karena radang paru
  • 1 orang karena terinfeksi COVID-19
  • 1 orang dead on arrival (DOA), masih dilakukan pendalaman/autopsi lanjutan untuk memastikan penyebab.

10. Konsultasi ke Dokter

Jika Anda masih ragu untuk menjalani vaksinasi, terutama karena terkait kondisi kesehatan, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Ini agar bisa mendapatkan saran dan informasi yang benar.