hoax covid 19 dan faktanya
July 12, 2021

Banyak hoax Covid 19 dan vaksin yang beredar, perlu diluruskan dengan fakta Covid 19 yang benar.

Hingga saat ini jumlah kasus Covid 19 di Indonesia masih terbilang tinggi. Begitupun dengan jumlah kematian yang disebabkan karena terpapar  Covid 19. Pemerintah pun menggencarkan program vaksinasi Covid 19. Namun di sisi lain banyak beredar hoax Covid 19 yang membuat masyarkat bingung bahkan hingga ada yang tidak percaya adanya virus berbahaya ini dan ada yang tidak mau divaksin.

Hal ini tentu akan menghambat berbagai upaya untuk secepatnya mengentaskan Covid 19. Untuk itu perlu adanya edukasi yang benar kepada masyarakat agar mengetahui mana yang merupakan hoax Covid 19 dan mana yang merupakan fakta. Dengan begitu masyarakat bisa mendapatkan informasi yang benar.     

Daftar Hoax dan Faktanya

Kami merangkum beberapa berita hoax Covid 19 dan vaksin, serta dilengkapi dengan informasi fakta Covid 19 yang benar untuk menjawab dan meluruskan  hoax tersebut yang bersumber dari situs resmi Covid19.go.id

  1. Vaksin Mengandung Magnet

Sempat beredar sebuah video di WhatsApp yang memperlihatkan sebuah uang koin pecahan seribu rupiah tertempel di lengan seseorang di area bekas suntikan vaksin Covid-19 dan menyebut vaksin tersebut mengandung magnet.

Faktanya :

Informasi tersebut tidak benar. Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan jumlah cairan vaksin yang disuntikan hanya 0,5 cc dan akan segera menyebar di seluruh jaringan sekitar, sehingga tidak ada cairan yg tersisa. Sedangkan uang logam yang menempel di permukaan kulit bisa disebabkan karena keringat.

Selain itu Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro juga menjelaskan, lubang jarum suntik sangat kecil, sehingga tidak ada partikel magnetik yang bisa masuk ke jarum suntik. Lagipula vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak mengandung logam.

Baca juga : Informasi Covid 19 Yang Ternyata Salah Selama Ini

  1. Air Rebusan Bawang Putih Dapat Menyembuhkan Covid

Beredar pesan hoax covid 19 di WhatsApp yang menyebutkan : “Virus Corona dapat sembuh dgn sendirinya dengan semangkuk air bawang putih yang baru direbus. Seorang Dokter muslim Tiongkok yang telah membuktikan keefektifannya. Banyak pasien juga telah terbukti efektif. Resepnya yaitu : 8 siung bawang putih cincang, tambahkan 7 gelas air dan didihkan. Minum air matang dari rebusan bawang putih.

Faktanya :

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Achmad Yurianto menyatakan bahwa air rebusan bawang putih tidak dapat menyembuhkan dari virus corona. Belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan bahwa meminum air rebusan air bawang putih dapat menyembuhkan dari virus corona.

WHO melalui laman resminya juga mengatakan hal yang serupa, hanya saja WHO mengatakan bahwa bawang putih merupakan makanan yang kemungkinan memiliki kandungan yang bersifat antimikroba.

  1. Sinar X dari TV Tabung Dapat Membunuh Virus

Beredar info hoax covid 19  di Twitter yang mengatakan bahwa sinar X dalam TV tabung dapat membunuh virus. Unggahan tersebut juga mengatakan bahwa untuk membunuh virus menggunakan sinar X dari TV tabung dapat dilakukan dengan cara membiarkan TV tabung menyala selama delapan jam.

Faktanya :

Informasi tersebut dipastikan tidak benar. Sinar X merupakan radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,001 hingga 10 nanometer yang biasa digunakan untuk melihat benda-benda yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata manusia.

Dalam dunia kesehatan, sinar X memiliki fungsi untuk mengidentifikasi hal-hal yang ada di dalam tubuh manusia, seperti mengidentifikasi keberadaan kanker dan tumor, penyumbatan pembuluh darah, patah tulang, kerusakan gigi, peradangan sendi, penciteraan organ dalam dan identifikasi benda asing dalam tubuh.

Selain memiliki manfaat dalam dunia medis, penggunaan sinar X yang berlebihan dan dilakukan dalam jangka waktu yang panjang juga dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan seperti kemerahan pada kulit, rambut rontok, katarak pada mata, serta mengembangkan kanker dan tumor dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga penggunaan sinar X haruslah sesuai dosis yang tepat agar manfaatnya bisa dirasakan dengan sesuai tujuan dan mengurangi resiko yang ada.

Sinar X sendiri dihasilkan melalui suatu tabung yang memiliki mekanisme bertemunya elektron dan anoda. Elektron sendiri dihasilkan melalui katoda yang dipanaskan. Untuk membuat elektron dan anoda bertemu, dibutuhkan generator yang dinyalakan untuk membentuk suatu beda potensial yang tinggi antara katoda dan anoda.

Beda potensial tersebut nantinya akan membuat laju percepatan elektron menjadi tinggi dan menumbuk anoda. Tumbukan antara elektron dan anoda inilah yang menghasilkan sinar x. Dengan demikian, dibutuhkan voltase yang tinggi untuk menghasilkan sinar X. Sedangkan pada TV, untuk menampilkan suatu tampilan pada layar TV membutuhkan voltase yang rendah, sehingga TV tidak dapat menghasilkan sinar X.

Baca juga : Tanya Jawab Vaksin Covid 19 , Update!

  1. Minum Air Panas dan Menghirup Uap Panas Bisa Sembuhkan Covid-19

Beredar sebuah video di WhatsApp yang menyatakan bahwa muncul kasus Covid-19 baru di Tiongkok, namun tidak menelan korban sebab masyarakat Tiongkok rajin meminum air panas 6 kali sehari, meminum susu panas dan teh panas 4 kali sehari, serta rajin menghirup uap panas. Video tersebut juga menyatakan bahwa jika rajin melakukan kebiasaan tersebut, maka virus Corona yang berada di dalam tubuh akan perlahan-lahan mati.

Faktanya :

WHO melalui situs resminya telah menegaskan bahwa tidak ada hasil penelitian yang menemukan bahwa meminum minuman panas dan menghirup uap panas dapat membunuh virus Corona. Lebih lanjut, hasil penelitian oleh sekelompok peneliti dari Universitas St. Thomas, Minnesota, Amerika Serikat menyatakan bahwa meskipun temperatur tinggi dapat melemahkan partikel virus Corona yang berada di permukaan suatu benda, metode tersebut tidak dapat memberikan hasil yang efektif ketika virus Corona telah masuk ke dalam tubuh manusia.

  1. Resep Obat Untuk Pasien Covid-19

Beredar pesan berantai berisi informasi hoax covid 19 terkait resep obat-obatan yang dianjurkan bagi pasien covid-19 dengan kondisi yang tidak terlalu parah karena semua rumah sakit khusus covid-19 sudah penuh :

Kalau ada yg kena covid tidak perlu panik dan tidak harus ke RS kalau memang tidak terlalu parah sesak napas sampai perlu ICU dan ventilator, karena saat ini RS khusus covid semua penuh. Bisa diobati sendiri, obat di RS untuk pasien covid seperti ini:

  • Antibiotik: azitromycin atau zitrothromax 500 mg diminum 10 hari
  • Antivirus: fluvir 75
  • Anti batuk dan kluarin dahak: fluimucil 200mg
  • Anti radang: Dexamethasone 0,5
  • Turun panas: Paracetamol, sanmol
  • Untuk jaga imun di atas 55 tahun : Minum multivitamin (vitamin C 1000 mg,  vitamin D 5000 Iu, vitamin E 400 Iu), Zinc zat (besi ) dan berjemur matahari pagi hari setidaknya 15 menit.

Faktanya :

Berdasarkan penelusuran, pesan tersebut merupakan informasi menyesatkan yang sudah beredar sejak akhir 2020. Dijelaskan bahwa pemakaian obat tidak bisa sembarang tanpa resep dokter.

Dokter spesialis paru sekaligus Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), dr Erlang Samoedro, SpP(K) mengatakan pemberian obat, meski pada pasien tanpa gejala, tetap harus dalam pengawasan medis. Obat harus diberikan sesuai kondisi pasien untuk mengurangi risiko efek samping penggunaannya.

Dilansir dari pemberitaan kompas.com pada 30 Desember 2020 menyebutkan bahwa masyarakat tidak boleh mengonsumsi obat yang beredar di pesan berantai tersebut secara sembarangan.

dokter umum sekaligus kandidat PhD di Medical Science di Kobe University, Adam Prabata menyebutkan bahwa obat-obatan tersebut memiliki efek samping pada pengguna jika tidak dikonsultasikan kepada dokter. Terdapat efek samping yang bisa ditimbulkan apabila mengonsumsi obat-obatan tersebut secara sembarangan seperti gangguan liver, ginjal.

  1. Vaksinasi Sebabkan Varian Baru COVID-19

Beredar postingan di Twitter tentang pernyataan dari seseorang ahli virologi dan pemenang Nobel Prize dari Prancis, Luc Montagnier, yang mengatakan bahwa vaksinasi dapat menyebabkan varian baru virus Corona.Dia juga mengklaim bahwa tingginya vaksinasi di sebuah negara berbanding lurus dengan kenaikan jumlah pasien terinfeksi COVID-19.

Faktanya :
Sejumlah ahli menyatakan bahwa klaim vaksinasi akan menciptakan varian baru virus Corona adalah TIDAK BENAR. World Health Organization (WHO) menjelaskan, vaksinasi tidak dapat menyebabkan virus Corona asli bermutasi menjadi varian baru. Hal yang menyebabkan virus Corona bermutasi adalah karena virus menyebar secara luas dalam populasi yang besar, serta menginfeksi banyak orang.

“Semakin banyak peluang yang dimiliki virus untuk menyebar, semakin banyak ia bereplikasi – dan semakin berpeluang untuk mengalami perubahan,” ungkap WHO. Lebih lanjut, dilansir dari Reuters, Dr. Robert Bollinger, seorang spesialis penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins menjelaskan kepada Reuters melalui email bahwa, dibandingkan orang yang tidak divaksin, orang yang sudah divaksin akan cenderung kebal terhadap infeksi virus Corona varian baru dan tidak berpotensi menyebarkan varian pula. 

Dr. Bollinger juga menjelaskan, orang-orang yang tidak divaksinasi lebih rentan terinfeksi virus, dan dari orang terinfeksi tersebut akan menyebarkan lagi ke orang-orang yang tidak divaksin. Penyebaran dalam tingkat tinggi itulah yang kemudian menciptakan mutasi baru virus Corona hingga menjadi varian baru. Lebih dari 99,9% dari semua varian virus Corona berasal dari dan menyebar ke orang yang tidak divaksin.

Baca juga : 10 Fakta Vaksin Astrazeneca Yang Perlu Diketahui

  1. Bahaya Donor Darah Dari Orang yang Sudah Divaksin Covid-19

Beredar sebuah video hoax covid 19 melalui media sosial Facebook yang menyatakan bahwa donor darah dari orang yang telah diberi vaksin Covid-19 bisa berbahaya. Hal ini karena ribuan orang telah meninggal akibat disuntik vaksin, sehingga secara langsung juga dapat mempengaruhi orang yang menerima donor darah dari mereka. Video ini menjelaskan bahwa vaksin yang disuntikkan kepada masyarakat adalah vaksin yang berbahaya karena masih dalam tahap uji coba.

Faktanya :

Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi menyatakan, klaim darah dari pendonor yang sudah divaksin Covid-19 berbahaya tidak benar. Menurut Nadia, penggunaan darah dari pendonor yang sudah divaksin Covid-19 sama seperti terapi plasma konvalense, sehinggan membentuk anti bodi terhadap Covid-19. “Jadi justru antibodinya menyelamatkan orang lain,” tuturnya.

Melansir laman redcrossblood.org, jeda waktu donor darah setelah divaksin tergantung jenis vaksin yang diterima. Normalnya, tidak ada waktu penangguhan bagi pendonor darah yang divaksinasi dengan vaksin COVID-19 yang tidak aktif atau berbasis RNA produksi AstraZeneca, Janssen/J&J, Moderna, Novavax, atau Pfizer.

Namun jika tidak mengetahui jenis vaksin Covid-19 apa yang diterima, maka masyarakat harus menunggu selama dua minggu baru dapat mendonorkan darahnya. Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe mengungkapkan bahwa tujuan pemberian jeda ini adalah untuk mengedepankan kehati-hatian serta mengevaluasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada orang yang divaksinasi jika terjadi. “Namun bukan berarti darah orang yang divaksinasj jadi berbahaya, aman,” paparnya.

Penelusuran lain juga dilakukan terhadap klaim yang menyebut bahwa vaksin Covid-19 adalah vaksin yang masih di dalam tahap uji coba sehingga menyebabkan ribuan kematian bagi penerima vaksin, juga merupakan klaim yang keliru.

Di Indonesia sendiri penyediaan vaksin sudah melewati tahapan uji klinis sehingga layak untuk didistribusikan kepada masyarakat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/12758/2020 telah menetapkan vaksin Corona yang beredar di Indonesia. Jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia yaitu vaksin yang diproduksi PT Bio Farma, Oxford-AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax, Pfizer-BioNTech, dan Sinovac.

Pengujian sampai pemberian vaksin ini pun menunjukkan bahwa efek samping dari vaksin hanya berupa gejala ringan seperti kelelahan, pegal-pegal, sampai demam. Sampai saat ini belum ada penelitian resmi yang membuktikan keterkaitan antara kematian dengan vaksinasi. Jika pun ada keadaan seperti itu, biasanya terjadi pada lansia yang memiliki kondisi rentan atau karena penyakit bawaan. Hal ini sekaligus membantah klaim yang menyatakan ribuan masyarakat meninggal akibat vaksin Covid-19.

  1. Campuran Air Kelapa Muda, Jeruk Nipis dan Garam dapat Sembuhkan Covid-19

Beredar sebuah pesan hoax covid 19 berantai melalui Whatsapp yang mengatakan bahwa campuran air kelapa, jeruk nipis dan garam dapat menyembuhkan Covid-19. Pesan tersebut juga mengatakan bahwa jika campuran tersebut diminum maka virus Covid-19 akan hilang dalam satu jam.

Faktanya :

Melansir dari laman berita Liputan6, Farmakolog Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt. mengatakan bahwa hal tersebut belum terbukti secara klinis. Sehingga masyarakat diminta untuk tidak mudah menerima informasi yang belum memiliki bukti klinis.

Baca juga : Gejala Covid 19 Yang Banyak Diderita dan Sering Diabaikan

  1. Air Kelapa Hijua Bisa Sebagai Covid-19

Air kelapa hijau juga menjadi buruan sejumlah masyarakat. Ini karena air kelapa hijau diklaim bisa sebagai obat dan mampu membantu penyembuhan Covid-19. Harganya bahkan melonjak tinggi di sejumlah daerah.

Faktanya :

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Dokter spesialis gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Saptawati Bardosono mengatakan bahwa air kelapa hijau bukanlah obat. “Bukan obat karena belum ada penelitian tentang berapa dosis dan kapan harus diminumnya,” kata Saptawati.

Dia juga mengungkapkan bahwa air kelapa hijau mengandung 90 persen air dan mineral. Kandungan mineralnya tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan reaksi tertentu saat diminum bersama obat lain. Oleh karena itu, tak menganjurkan ketika sedang mengonsumsi obat lalu dibarengi dengan minum air kelapa hijau. “Jangan diminum bersamaan, artinya minum obat dengan air putih biasa dulu dan beri jeda sekitar satu jam atau lebih [untuk kemudian bisa konsumsi air kelapa hijau],” ujarnya.

Namun hal ini tak berarti konsumsi air kelapa hijau sepenuhnya dilarang. Pasalnya, menurut Tatik, air kelapa hijau mengandung antioksidan dan asam amino yang dapat membantu meningkatkan kadar antibodi. “Peran antioksidan dari kandungan vitamin C-nya. Karena adanya kandungan mineral maka sebaiknya cukup satu-dua kali sehari saja,” tambahnya.

  1. Susu Beruang Bisa Menyembuhkan Covid-19

Beberapa waktu lalu sempat heboh soal Bear Brand alias “Susu Beruang” yang menjadi rebutan masyarakat. Susu ini dipercaya mampu meningkatkan imunitas tubuh dan memulihkan kondisi badan saat sakit, termasuk saat menderita Covid-19. Klaim tersebut pun tak ayal membuat banyak orang beramai-ramai berburu .

Faktanya :

Dilansir dari CNBCIndonesia.com, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban membantah susu beruang bisa menyembuhkan Covid-19. Kandungan dalam susu disebut tidak bisa membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19 dalam tubuh. “Susu beruang untuk mengobati Covid-19, ya tentu saja tidak bisa, susu beruang tak bisa mematikan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19,” kata Zubairi.

Zubairi juga menjelaskan apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini untuk terlindung dari pandemi tidak hanya konsumsi susu. Dibutuhkan konsumsi sayuran, buah, karbohidrat, vitamin, serta mineral yang didapatkan dengan makan makanan beragam. “Sebenarnya mau minum susu beruang atau susu bubuk lainnya itu silahkan saja. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, kecuali susu kental manis yang proteinnya rendah,” katanya. “Tapi untuk mendapatkan nutrisi yang baik itu harus makan mengandung sayur, buah, karbohidrat, vitamin, dan mineral, jadi enggak cuman susu,” ujarnya lagi.