vaksin ketiga vaksin covid 19
August 12, 2021

Pemberian vaksin ketiga sebagai booster dapat meningkatkan kemampuan antibodi yang terbentuk dari vaksin sebelumnya.

Program vaksinasi Covid 19 masih terus dilakukan dengan pemberian suntikan vaksin hingga dua kali dosis. Belakangan muncul informasi tentang vaksin ketiga atau vaksin booster karena diduga daya tahan dua dosis vaksin Covid 19 yang sudah diberikan tidak bertahan lama. Benarkah?  

Soal pemberian suntikan ketiga vaksin atau vaksin booster, menjadi bahan diskusi tidak hanya masyarakat, tapi juga oleh para ahli kesehatan. Apalagi belakangan kehadiran Covid-19 varian baru yang lebih ganas membuat keraguan akan kemampuan vaksin yang sudah diberikan.

Menurut Direktur Bio Farma, Honesti Basyir sampai sekarang belum diketahui mengenai berapa lama daya tahan vaksin Covid-19. “Mengacu uji klinis hampir semua vaksin, belum ada satupun yang mengatakan daya tahan vaksin berapa lama, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Itu belum ada yang memastikan,” kata Honesti.

Baca juga : Daftar Hoax Covid 19 dan Vaksin Yang Beredar di Masyarakat, Ini Faktanya!

Hal tersebut senada dengan yang dikatakan Chunhuei Chi, direktur Pusat Kesehatan Global di Oregon State University, mengenai berapa lama antibodi bertahan usai vaksin adalah pertanyaan yang rumit dan belum banyak data tersedia untuk menjawabnya. “Namun menurutnya laporan dari uji klinis sebelumnya menunjukkan bahwa durasi vaksin Covid 19 akan bertahan paling cepat selama enam bulan,” kata Chi, dikutip dari Bloomberg.

Menanggapi keraguan mengenai daya tahan vaksin Covid 19 yang sudah diberikan, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid19, Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa dua kali dosis vaksin sudah cukup bagi masyarakat umum untuk membentuk kekebalan individu. “Studi ilmiah menunjukkan rata-rata antibodi pada populasi dapat bertahan dalam jangka waktu bulanan, walaupun secara fakta adanya berbagai macam varian dapat mempengaruhi transmisibilitas maupun efektivitas vaksin yang telah diberikan,” ujar Wiku.

Daya Tahan Tiap Vaksin Covid Berbeda?

Meski secara umum vaksin Covid 19 mampu memberikan sistem imun melalui pembentukan antibodi pada tubuh, namun menurut beberapa penelitian durasi dari efikasi tiap merek vaksin Covid 19 bisa berbeda-beda.

  • Sinovac

Sebuah penelitian di China  menemukan vaksin Sinovac menurun setelah 6 bulan suntikan kedua. Riset tersebut menunjukkan antibodi yang dihasilkan dari penyuntikan dua dosis vaksin Covid-19 Sinovac akan menurun setelah enam bulan, seperti dilansir dari katadata.co.id. Lebih lanjut riset tersebut juga memaparkan, antibodi penerima dua suntikan vaksin Sinovac mengalami penurunan hingga 16% dalam rentang waktu empat pekan.

Penurunan kekuatan antibodi didasarkan pada dari hasil temuan para peneliti vaksin Sinovac di Tiongkok yang dipublikasikan pada bulan Juli 2021. Penelitian tersebut melibatkan 540 orang dengan rentang usia 18-59 tahun.

Efikasi vaksin Sinovac untuk dua dosis sebesar 65,3%. Responden yang mendapatkan dua dosis suntikan Sinovac, ketika antibodi diperiksa pada dua pekan menjadi 35,2%. Adapun responden yang diperiksa pada empat pekan kemudian menjadi 16,9%.

Dilansir dari kompas.com, soal penurunan kemampuan vaksin SInovac juga dibenarkan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan hal yang sama. “Iyaa menurun bisa saja seperti vaksin Influenza,” kata Nadia. Ketua Tim Uji Klinis Nasional Vaksin Covid-19 Kusnandi Rusmil juga mengungkapkan hal yang sama. Selain itu Meski begitu, menurut Kusnandi, setiap orang yang sudah melakukan vaksin Covid-19 Sinovac dua dosis sudah memiliki antibodi yang tinggi untuk melawan virus corona.

Baca juga : Tanya Jawab Vaksin Covid 19 , Update!

  • Astrazeneca

Soal kemampuan vaksin Covid yang menurun, CEO AstraZeneca, Pascal Soriot menjelaskan vaksin AstraZeneca  telah memproduksi sel imun yang cukup tinggi. Ini berarti vaksin seharusnya mampu melawan infeksi COVID-19 dalam jangka waktu panjang.

“Ada dua dimensi kekebalan. Pertama, antibodi (yang) menurun seiring waktu, tetapi dimensi kedua yang sangat penting dari vaksinasi adalah apa yang disebut sel-T. Mereka cenderung melindungi orang dari penyakit parah dan juga memberikan daya tahan,” jelas Soriot yang dikutip dari CNBC International

“Dengan teknologi yang kami gunakan, kami memiliki produksi sel-T yang sangat tinggi. Kami berharap, kami bisa memiliki vaksin yang tahan lama untuk melindungi untuk jangka waktu yang lama,” lanjutnya.

Sel-T merupakan sejenis sel darah putih yang memainkan peran berbeda dalam mempertahankan tubuh melawan virus yang menyerang. Antibodi mencegah virus menyerang sel, tetapi tidak bertahan selama sel-T.

  • Pfizer

Menurunnya kemampuan vaksin juga diungkapkan CEO Pfizer Albert Bourla, dia mengatakan antibodi yang dihasilkan vaksin bisa memudar dari waktu ke waktu. Apalagi perkembangan varian Delta yang kian meluas, dimana serangan varian virus ini lebih ganas.

Bourla pun mengakui bahwa vaksin Pfizer mengalami pengurangan efikasi dalam waktu beberapa bulan pasca penyuntikan. “Kemanjuran vaksin menurun menjadi sekitar 84 persen, dalam 4-6 bulan setelah dosis kedua diberikan,” imbuhnya.

  • Moderna

Untuk vaksin Moderna, sebuah laporan dari The Washington Post. mengungkapkan ada penelitian yang dilakukan para dokter yang memantau pasien yang menerima vaksin Covid-19 Moderna. Mereka menemukan, pada awalnya tubuh membentuk antibodi, namun antibodi itu akan menurun dalam beberapa minggu setelah vaksin diberikan. Namun, antibodi itu masih tetap ada di tubuh pasien selama tiga bulan setelah kedua dosis diberikan,

Baca juga : Sudah 2 Kali Divaksin Covid 19 Masih Bisa Tertular, Ini Penyebabnya!

Perlukah Vaksin Ketiga ?

Masih ada perdebatan mengenai perlu tidaknya pemberian vaksin ketiga bagi mereka yang telah mendapatkan dua kali dosis vaksin Covid 19. Sebagaimana dikatakan oleh CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, yang mengungkapkan bahwa vaksin ketiga atau vaksin booster  belum memiliki dasar ilmiah yang jelas. Ia juga tidak yakin bahwa vaksin booster itu bisa menciptakan kekebalan lanjutan yang lebih kuat melawan COVID-19.

Soriot mengatakan, untuk memastikan apakah vaksin booster diperlukan adalah dengan melihat kemanjuran vaksin menurun seiring waktu. Sampai saat ini, dia mengaku belum melihat adanya penurunan efikasi yang bisa mempengaruhi vaksin besutannya.

“Kami tahu bahwa (vaksin) kami memiliki penurunan antibodi (dari waktu ke waktu). Kami belum melihat penurunan kemanjuran, tetapi agak dini untuk menilai dan saya berharap sel-T akan memberikan perlindungan jangka panjang yang tahan lama ini,” kata Soriot.

Hal berbeda diungkapkan oleh CEO Pfizer Albert Bourla, dia yakin bahwa orang-orang membutuhkan dosis penguat melalui pemberian vaksin ketiga. Sebab, antibodi yang dihasilkan vaksin bisa memudar dari waktu ke waktu dan juga perkembangan varian Delta yang kian meluas. “Kami sangat, sangat yakin bahwa dosis ketiga vaksinnya akan memberikan kekebalan yang cukup untuk melindungi dari varian Delta yang menyebar lebih cepat,” ujar Bourla.

Pendapat berbeda juga dilontarkan oleh Ketua Tim Uji Klinis Nasional Vaksin Covid-19 Kusnandi Rusmil. Menurutnya setiap orang yang sudah divaksin akan membentuk antibodi yang tinggi bila kontak dengan virus Covid, Efikasi vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia saat ini masih cukup untuk penanganan virus corona saat ini. “Masyarakat yang sudah mendapat vaksin Covid-19 Sinovac dua dosis saat ini belum perlu mendapatkan vaksin booster atau vaksin ketiga”, kata Kusnandi.

Lebih lanjut menurutnya, saat ini vaksin ketiga atau vaksin booster cukup diberikan kepada tenaga kesehatan yang merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Saat ini Kementerian Kesehatan sudah memulai pemberian vaksin ketiga bagi tenaga kesehatan yang dimulai sejak 16 Juli 2021.

Adapun jenis vaksin dosis ketiga yang diberikan kepada nakes adalah vaksin Covid-19 Moderna yang memiliki efikasi lebih tinggi yaitu 94,1 persen dibandingkan Sinovac hanya 65,3 persen. Sejauh pelaksanaan vaksinasi dosis ketiga, dilaporkan tidak ada efek samping serius yang ditimbulkan. Para tenaga kesehatan vaksinasi juga mengaku tidak merasakan gejala maupun reaksi yang signifikan. Pemerintah menyediakan sebanyak 1,4 juta dosis vaksin Moderna untuk vaksinasi ketiga bagi nakes.

Pemberian vaksin ketiga sebagai booster akan meningkatkan kembali kekebalan tubuh. Dimana mereka yang menerima dosis ketiga sebagai booster yang disuntikkan sekitar enam bulan setelah dosis kedua, antibodi mereka meningkat tiga sampai lima kali lipat.