perbedaan vaksin covid 19 (1)
September 2, 2021

Setidaknya saat ini ada empat jenis vaksin Covid 19 yang sudah digunakan pada program vaksinasi bagi masyarakat umum di Indonesia. Banyak yang bertanya apa perbedaan vaksin – vaksin yang digunakan di Indonesia. Terutama mana yang paling ampuh dalam melawan Covid 19.

Meski ada perbedaan vaksin Covid 19 yang saat ini digunakan, namun pada dasarnya semua vaksin sudah terbukti ampuh dan aman untuk melawan infeksi Covid 19. Ini terbukti dengan dikeluarkannya izin penggunaan vaksin-vaksin tersebut oleh badan yang berkompeten, seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) di Indonesia.  Dimana batas standard minimal efikasi vaksin yang diizinkan untuk digunakan yaitu 50%, sesuai dengan standard WHO (World Health Organisation).

Namun memang berdasarkan pada beberapa hasil uji klinis dari berbagai vaksin tersebut, ada perbedaan vaksin yang satu dengan yang lainnya, terutama pada nilai efikasinya yang menandakan tingkat keampuhan vaksin tersebut dalam melawan Covid 19.

Perbedaan Vaksin Covid 19

Pada dasarnya semua vaksin Covid yang digunakan di Indonesia sudah terbukti ampuh dalam melawan infeksi Covid 19. Meski begitu tidak ada salahnya untuk mengetahui lebih detil perbedaan vaksin yang digunakan di Indonesia.

Vaksin Sinovac

Vaksin Sinovac atau CoronaVac dibuat dengan metode inactivated virus atau virus corona yang sudah dimatikan atau dilemahkan, sehingga vaksin ini tidak mengandung virus hidup dan tidak bisa bereplikasi. Virus corona yang sudah mati ini kemudian dicampur dengan senyawa berbasis aluminium yang disebut adjuvan. Senyawa ini berfungsi merangsang sistem kekebalan dan meningkatkan respons terhadap vaksin.

  • Pembuat : Sinovac Biotech Ltd, China
  • Bahan dasar: Vaksin sinovac dibuat dari virus Corona (SARS-CoV-2) yang telah dimatikan (inactivated virus).
  • Uji Klinis: fase III (selesai) di China, Indonesia, Brazil, Turki, Chile.
  • Efikasi: 65,3% (di Indonesia), 91,25% (di Turki), Brazil (75%)
  • Izin : Vaksin Sinovac sudah mendapatkan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) dari BPOM, serta sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
  • Cara kerja : Setelah disuntikkan, vaksin Sinovac yang mengandung virus tidak aktif ini akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi yang dapat melawan virus Corona secara spesifik. Dengan begitu, jika sewaktu-waktu tubuh terserang virus Corona, sudah ada antibodi yang bisa melawannya dan mencegah terjadinya penyakit.
  • Dosis : vaksin Sinovac diberikan sebanyak 2 dosis suntikan (0,5 ml per dosis) dengan jarak 14 sampai 29 hari.
  • Penerima vaksin : Golongan yang boleh menerima suntikan vaksin Sinovac antara lain yaitu : Usia lebih dari 12 tahun. Boleh juga diberikan kepada Penderita gangguan jantung, pernapasan, obesitas, penyintas COVID-19, penderita HIV +, Penderita gangguan imun, Ibu hamil, Ibu menyusui. Namun harus melalui pemeriksaan dan pengawasan dokter.
  • Efek samping : Setelah diberikan vaksin Sinovac ada sebagain yang bisa saja merasakan efek samping. Namun efek ini muncul hanya bersifat ringan dan sementara, dan akan hilang dengan sendirinya, rata-rata hilang dalam 3 hari. Beberapa efek samping yang mungkin timbul : Nyeri di lokasi penyuntikan, Nyeri otot, Sakit kepala.

Baca juga : Daftar Hoax Seputar Vaksin dan Jawabannya Yang Benar

Vaksin AstraZeneca

Perbedaan vaksin Astrazeneca dari Sinovac, yaitu vaksin ini dibuat dari hasil rekayasa genetika (viral vector) dari virus flu biasa yang tidak berbahaya. Berdasarkan hasil uji klinis, WHO juga sudah menyatakan bahwa AstraZeneca dinilai efektif untuk melindungi masyarakat dari risiko Covid 19 yang sangat serius, seperti rawat inap, penyakit parah hingga mencegah kematian.

vaksin astrazeneca
  • Pembuat : Vaksin Astrazeneca dibuat oleh perusahaan farmasi asal Inggris, yaitu AztraZeneca, yang bekerjasama dengan Universitas Oxford.
  • Bahan dasar : Virus hasil rekayasa genetika (viral vector).
  • Uji klinis : fase III (hampir selesai), dilakukan di Inggris, Amerika, Afrika Selatan, Colombia, Peru, Argentina.
  • Efikasi vaksin : tingkat efektifitas AstraZeneca untuk melawan penyakit COVID-19 mencapai 63–75%.
  • Izin :  Vaksin AstraZeneca ini telah lolos uji klinis dan sudah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin ini juga sudah mengantongi emergency use listing dari organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization). Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengumumkan fatwanya mengenai kehalalan dari vaksin Astrazeneca. Hasilnya, vaksin tersebut dinyatakan mengandung tripsin babi. Kendati demikian, MUI tetap mengeluarkan fatwa vaksin tersebut boleh digunakan karena Indonesia sedang dalam kondisi darurat.
  • Cara kerja : Vaksin AstraZeneca bekerja dengan cara merangsang tubuh untuk membentuk antibodi yang dapat melawan infeksi virus Covid 19.
  • Dosis : Vaksin AstraZeneca diberikan sebanyak 2 dosis suntikan (0,5 ml per dosis) dengan jarak waktu penyuntikan 4-12 minggu.
  • Penerima vaksin :

-Usia >18 tahun

– Jika memiliki kondisi komorbid, sebelumnya harus mendapatkan persetujuan dari dokter

– Orang yang pernah terkena COVID-19 dan sudah sembuh selama 6 bulan

  • Efek Samping :Sama seperti vaksin Covid 19 lainnya, vaksin AstraZeneca juga dapat menimbulkan efek samping bagia sebagian orang atau juga dikenal dengan sebutan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) . Namun, biasanya efek samping ini hanya bersifat ringan hingga sedang, dan akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Adapun beberapa efek samping yang umum terjadi setelah disuntikkan vaksin AstraZeneca, antara lain yaitu : Nyeri, memar atau bengkak pada bagian yang disuntik, demam atau badan panas, Menggigil, Kelelahan, Sakit kepala, Mual, Nyeri sendi dan otot. Ada juga efek lain yang terbilang jarang terjadi, seperti muntah, diare atau penggumpalan darah. Segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan secepatnya jika efek samping tidak mereda.

Baca juga : Mengenal Vaksin Sinopharm, Yang Digunakan pada Vaksinasi Gorong Royong

Vaksin Pfizer

Perbedaan vaksin Pfizer dari Sinovac dan Astrazeneca, yaitu vaksin Pfizer dibuat berbasis teknologi messenger RNA (mRNA). Dengan menggunakan gen sintetis ini maka vaskin Pfizer lebih mudah diciptakan, membuat vaksin ini dapat diproduksi lebih cepat dibanding teknologi biasa.

  • Pembuat : Vaksin Pfizer dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech, yang bekerja sama dengan perusahaan farmasi Pfizer asal Amerika Serikat.
  • Bahan dasar:  messenger RNA (mRNA)
  • Uji klinis: fase III (selesai), dilakukan di Amerika Serikat, Jerman, Turki, Afrika Selatan, Brazil, Argentina.
  • Efikasi : Melansir laman resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), vaksin Pfizer memiliki tingkat efikasi atau keampuhan sebesar 95 persen terhadap infeksi Covid 19 yang bergejala. Selain itu banyak studi yang menunjukkan bahwa Pfizer ampuh melawan varian virus. Disebutkan bawah dua dosis vaksin Pfizer 90 persen efektif untuk membantu pasien rawat inap yang terinfeksi Covid 19 varian delta, agar tidak bertambah gejalanya dan mencegah kematian. 
  • Izin :  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memberikan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) untuk vaksin COVID-19 Pfizer.  MUI menyebut vaksin Pfizer haram, namun boleh digunakan karena kondisi darurat pandemi corona.
  • Cara kerja :  mRNA yang terkandung di dalam vaksin Pfizer akan mengajari sel tubuh cara membuat protein yang memicu respons imun di dalam tubuh. Respons imun ini yang menghasilkan antibodi yang melindungi kita dari infeksi jika virus Covid 19 yang sebenarnya masuk ke tubuh kita.
  • Dosis : Vaksin Pfizer akan disuntikkan dalam dua dosis (0,3 ml per dosis) dengan jangka waktu 3-4 minggu.
  • Penerima vaksin : Mengutip dari akun instagram Pemda DKIJakarta (@dkijakarta), ada sejumlah persyaratan bagi yang dapat disuntikan vaksin Pfizer, antara lain :
    • Berusia di atas 12 tahun
    • Belum pernah divaksin Covid 19 dosis 1 dan 2
    • Bisa diberikan untuk ibu hamil atau ibu menyusui
    • Prioritas bagi pengidap autoimun, komorbid berat, penyakit kronis dan gangguan imunologi lainnya. Namun harus dengan surat rekomendasi dokter.
  • Efek Samping : Sama dengan penggunaan beberapa jenis vaksin Covid 19 lainnya, penggunaan Pfizer juga berisiko menimbulkan efek samping bagi penerima vaksin ini. Namun, efek samping yang ditimbulkannya ini  bisa sembuh dengan sendirinya. Timbulnya efek samping ini merupakan tanda bahwa vaksin sedang bekerja. Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa ditimbulkan Pfizer :
    • Nyeri pada area penginjeksian vaksin.
    • Kemerahan pada area penginjeksian vaksin
    • Bengkak pada area penginjeksian vaksin
    • Kelelahan
    • Sakit kepala
    • Demam
    • Mual

Jika efek samping setelah vaksinasi ini tak kunjung sembuh atau malah makin memburuk, segera berkonsultasi dengan dokter terdekat atau pihak penyelenggara vaksinasi,.

Baca juga : Yang Tidak Boleh Divaksin Covid 19

Vaksin Moderna

Vaksin Moderna kini bisa juga digunakan untuk masyarakat umum. Beberapa penelitian lainnya menerangkan bahwa Moderna efektif mencegah ganasnya virus Covid 19 varian Alfa dan Beta. Bahkan Moderna sendiri menyebutkan vaksin ini ampuh untuk melawan varian Beta, Delta, Eta, dan Kappa. Tetapi, efikasi vaksin Moderna terhadap varian Delta masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Meski begitu, beberapa ahli meyakini Moderna mampu bekerja sama hebatnya dengan vaksin Pfizer, sebab keduanya adalah vaksin jenis mRNA. Inilah perbedaan vaksin Moderna dan Pfizer dari Sinovac dan Astrazeneca.

  • Pembuat : Vaksin ini yang dikembangkan oleh Moderna, Inc. dan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) yang berkantor pusat di Amerika Serikat.
  • Bahan dasar: messenger RNA (mRNA)
  • Uji klinis: fase III (selesai), dilakukan di Amerika Serikat
  • Efikasi vaksin: Berdasarkan hasil uji klinis yang telah dilakukan, vaksin Moderna memiliki nilai efikasi sebesar 94,1%
  • Izin :  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan pengkajian bersama Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19 dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) terkait keamanan serta efikasi vaksin Moderna. Vaksin ini telah mengantongi izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut BPOM Sebelumnya vaksin ini hanya diperuntukan untuk para tenaga kesehatan (nakes) sebagai vaksin booster, namun kini masyarakat umum juga sudah dapat diberikan vaksin Moderna.
  • Cara kerja :  Karena dibuat dengan menggunakan mRNA (messenger RNA), cara kerja vaksin Moderna berbeda dengan vaksin yang menggunakan virus yang dilemahkan seperti yang digunakan pada vaksin Sinovac dan Sinopharm.

Vaksin jenis mRNA bekerja dengan cara mengajarkan sel-sel tubuh kita menghasilkan protein tertentu untuk membentuk respons imun. Setelah respons imun terbentuk, maka akan muncul antibodi yang akan melindungi tubuh kita bila terinfeksi virus. Sama seperti jenis vaksin lain, Moderna dapat menghindari dari efek berat terinfeksi Covid-19, bukan mencegah penularan Covid 19.

  • Dosis : Untuk mendapatkan kinerja vaksin yang maksimal, maka harus diberikan sebanyak dua kali dosis suntikan (0,5 ml per dosis), dengan rentang waktu 28 hari.
  • Penerima vaksin : Pemberian vaksin Moderna saat ini masih diprioritaskan untuk beberapa orang dengan kriteria tertentu, antara lain :
    • Hanya diberikan kepada masyarakat umum yang belum pernah menerima suntikan dosis vaksin Covid-19 pertama maupun kedua.
    • Untuk yang sudah berusia 18 tahun ke atas.
    • Direkomendasikan untuk mereka yang memiliki komorbid paru-paru, jantung, obesitas, diabetes, liver, dan HIV. Dengan syarat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter di lokasi vaksinasi sebelum divaksin.
    • Di Jakarta, penggunaan Moderna diprioritaskan untuk kelompok masyarakat yang memiliki gangguan autoimun, penderita kanker, dan gagal ginjal.
    • Vaksin ini diberikan untuk mereka yang tidak dapat menggunakan vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca berdasarkan surat keterangan dokter yang berpraktik di fasilitas kesehatan.
    • Vaksinasi menggunakan Moderna di wilayah DKI Jakarta hanya ditujukan kepada warga asli DKI Jakarta atau domisili di DKI Jakarta
  • Efek Samping : Sama seperti jenis vaksin Covid 19 lainnya, setelah diberikan suntikan vaksin Moderna, ada beberapa yang akan mengalami efek samping atau biasa disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Namun jangan khawatir, efek samping ini dianggap hal yang wajar. Ini menunjukkan vaksin sedang bekerja, mengajari sel tubuhmu untuk membentuk protein. BPOM menyatakan, Moderna bisa menimbulkan reaksi lokal maupun sistemik. Reaksi efek samping yang paling sering timbul dari penggunaan vaksin Moderna antara lain nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan menggigil.

Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menerima vaksin Moderna antara lain: Nyeri, bengkak, atau kemerahan di area bekas suntikan, Rasa lelah, Sakit kepala, Nyeri otot, Nyeri sendi, Menggigil, Mual dan muntah, Demam. Lakukan pemeriksaan ke dokter jika keluhan tersebut tidak kunjung reda atau semakin berat. Segera ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi setelah vaksinasi.