kasus covid di indonesia (1)
September 27, 2021

Sudah ada tanda bakal ada potensi gelombang ketiga kasus Covid di Indonesia

Kasus Covid di Indonesia belakangan berangsur membaik. Jumlah kasus harian dan juga positivity rate atau tingkat penularan menunjukkan angka yang rendah. Pemeirntah pun sudah mulai melonggarkan beberapa aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Namun di balik itu semua, ternyata ada prediksi soal potensi munculnya gelombang ketiga kasus Covid di Indonesia. Hal ini diprediksi oleh  Pakar Epidemiologi Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman. Sebagaiman dilansir dari CNBC Indonesia, menurut Dicky potensi gelombang tiga kasus Covid 19 di Indonesia bakal terjadi Desember 2021.

Baca juga : Belum Divaksin, Amankah Anak 12 Tahun ke Bawah Ikut ke Mall ?

Hal yang sama juga diungkapkan Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko yang memprediksi lonjakan kasus diperkirakan akan terjadi selambatnya pada Maret 2022. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito juga mengatakan berdasarkan pengalaman, gelombang ketiga di di Indonesia bisa terjadi dalam tiga bulan ke depan, tepatnya mulai libur Natal dan Tahun Baru.

Penyebab Lonjakan Kasus Gelombang

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu terjadinya gelombang 3 kasus Covid 19 di Indonesia, diantaranya yaitu :

1.         Peningkatan Mobilitas

Dengan semakin berkurangnya kasus Covid di Indonesia belakangan ini, membuat peraturan PPKM juga dilonggarkan. Beberapa akivitas kini sudah mulai boleh diizinkan untuk dilakukan. Ini membuat adanya peningkatan mobilitas masyarakat belakangan ini. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 15 September 2021, telah terjadi mobilitas yang tinggi di empat wilayah di Indonesia, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten. Peningkatan mobilitas belakangan ini bahkan sudah menyamai kondisi sebelum pandemic.

Menurut Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko, “Risiko penyebaran Covid 19 semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya mobilitas dan kerumunan masyarakat. Hal ini sudah terbukti sebelumnya, dengan terjadinya beberapa kali lonjakan kasus Covid di Indonesia ketika meningkatktnya mobilitas, misalkan saat libur panjang” ujar Tri.

2.         Menurunnya Kesadaran Protokol Kesehatan

Melihat kondisi menurunnya kasus Covid di Indonesia, justru membuat sebagai masyarakat berganggapan Covid 19 sudah selesai. Hal ini berimbas pada menurunnya kesadaran terhadap penerapan protokol kesehatan. Belakangan mulai banyak masyarakat yang tidak lagi menerapakan protokol kesehatan secara ketat, seperti banyak yang tidak memakai masker, warga berkumpul tanpa adanya jaga jarak dan lainnya.

3.         Test, Tracing, Treatment Rendah

Menurut Dicky Budiman, penyebab lain akan munculnya gelombang ketiga Covid di Indonesia juga karena kapasitas 3T (Test, Tracing, Treatment) di Indonesia dinilai masih rendah. Menurutnya, meskipun positivity rate di Indonesia saat ini rendah (sekitar 1,7%), tapi testing, tracing, dan tracking atau 3T yang dilakukan masih rendah. “Hal ini menjadi satu hal yang perlu diwaspadai.” ujarnya“

4.         Vaksinasi Masih Rendah

Meskipun sejumlah daerah sudah berhasil memvaksinasi warganya hingga mencapai 100%, seperti Jakarta dan Bali, namun secara total, vaksinasi di Indonesia masih terbilang rendah. Menurut data  Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 6 Spetember 2021, program vaksinasi Covid 19 di Indonesia sudah mencapai 32,1% dari total jumlah yang ditargetkan. Di mana pemerintah menargetkan akan memvaksin 208.265.720 warga guna mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity terhadap Covid-19. Ini berarti target yang harus dicapai masih sangat jauh. Padahal batas minimal untuk mencapai herd immunity yaitu 70% populasi.

5.         Bahaya Varian Baru

Varian Delta berhasil memporak-porandakan beberapa negara termasuk Indonesia beberapa waktu lalu. Akiba Covid 19 varian baru ini, kasus positif meningkat tajam hingga membuat jatuh korban meninggal dunia yang juga tidak sedikit.

Belajar dari pengalaman tersebut, penting juga untuk mendeteksi keberadaan varian baru dan potensi, tren, atau progres penyebaran dari jenis virus baru. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian pada kasus-kasus orang yang telah divaksinasi tapi masih terpapar virus, dikhawatirkan ada hal itu disebabkan oleh varian baru.

Varian baru Covid 19 sangat rawan memunculkan kembali gelombang ketiga. Sebagaimana diketahui belakangan ditemukan varian baru Covid 19 yang bernama virus Corona Mu atau B.1.621 yang diduga lebih tahan terhadap vaksin Covid-19. Bahkan belakangan juga ditemukan varian R.1 terbaru

Meski demikian, sejumlah negara di Asia Tenggara belum melaporkan deteksi adanya varian Mu, termasuk Indonesia.  “Beberapa tempat di sekitar kita varian mu ini belum terdapat, kita sudah melakukan genom sequencing terhadap 7.000-an orang di seluruh Indonesia dan belum terdeteksi varian Mu,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, seperti dikutip dari Kompas.com.

Tidak Sebesar Lonjakan Sebelumnya, Asal….

Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito mengatakan berdasarkan pengalaman, gelombang ketiga di RI bisa terjadi. “Namun dengan pembelajaran dari kejadian gelombang satu dan dua, harusnya kita semakin tangguh,” katanya.

Lonjakan kasus pertama terjadi pada Januari 2021 setelah Libur Natal dan tahun Baru 2020. Selanjutnya, lonjakan kasus kedua terjadi pada Juli. “Lonjakan kasus kedua pada Juli memberikan banyak pelajaran. Penanganan lebih mahal, lama dan memakan banyak korban.” Ujar Prof Wiku. Lebih lanjut dia mengatakan lonjakan kasus di Indonesia pada bulan Juli tidak disebabkan global atau dari negara lain, tapi dari internal Indonesia. Hal ini karena peningkatan mobilitas dan aktivitas sosial bersamaan dengan mudik.

Baca juga : Kasus Covid 19 Turun Drastis, Indonesia Sudah Aman ?

Pakar Epidemiologi Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman juga berharap jika terjadi gelombang ketiga, seharusnya tidak sebesar gelombang sebelumnya. “Kecuali kalau ada varian yang jauh lebih hebat atau setidaknya seperti varian Delta, itu bisa sama (gelombang infeksinya),” tutur dia. Selain itu gelombang ketiga dapat tak sebesar gelombang sebelumnya kedua asalkan dilakukan antisipasi, yakni dengan memperketat pintu-pintu masuk ke Indonesia. Dan tentunya dari masyarakat sendiri juga harus tetap waspada dan tidak lengah dalam menerapkan protokol kesehatan.