makan mie instan (1) (1)
November 25, 2021

Ada cara mengonsumsi mie instant agar tidak membahayakan bagi kesehatan.

Saat hujan turun dan udara terasa dingin, ada satu kebiasaan yang menjadi kegemaran banyak orang, yaitu makan mie instan yang disajikan panas-panas. Selain untuk mengatasi perut yang terasa lapar, kuah panas dari mie instan juga bisa membuat tubuh terasa lebih hangat di tengah kondisi udara yang dingin.

Mie instan selama ini memang sudah menjadi makanan favorit banyak orang. Menurut laporan World Instant Noodles Association, pada akhir 2017, ada sebanyak 102, 7 milliar porsi mie instan yang telah dikonsumsi di seluruh dunia dalam satu tahun. Dan Indonesia menempati urutan teratas setelah Cina sebagai negara terbanyak konsumsi mie instan. Orang Indonesia sudah mengonsumsi sebanyak 13,4 miliar porsi mie instan.

Tidak diragukan lagi, makan mie instan memang menggugah selera, namun di sisi lain juga ada yang menyebutkan mengandung beberapa efek yang tidak baik untuk kesehatan.

Baca juga : Minum Kopi Bisa Menyehatkan? Ini Faktanya!

Mie instan tergolong sebagai jenis makanan yang mengandung nutrisi rendah. Mie yang ada di kemasan mie instan mengandung tinggi karbohidrat, lemak dan kalori, tapi memiliki sedikit protein, serat, mineral, dan vitamin. Di samping itu ada juga yang mengandung pewarna buatan, pengawet, dan perasa.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan The Washington Post pada 2014, menyebutkan makan mie instan juga memiliki risiko menimbulkan gangguan metabolisme (diabetes, tekanan darah tinggi, hipertensi, dan masalah jantung) karena sodium yang tinggi, lemak jenuh yang tidak sehat, dan indeks glikemiknya yang juga tinggi. Selain itu konsumi mi instan berlebihan bisa memicu obesitas.

Cara Makan Mie Instan Yang Aman

Meski termasuk makanan yang rendah gizi, tapi bukan berarti mie instan harus dihindari sama sekali. Ada beberapa cara makan mie instan agar selain tetap bisa merasakan kenikmatannya, juga tidak membahayakan bagi kesehatan, antara lain yaitu :

  •  Jangan Terlalu Sering

Anggapan mengonsusmi mie instan itu berbahaya, tidak sepenuhnya tepat. Yang dianggap berbahaya jika terlalu sering mengkonsumsinya. Menurut ahli gizi, Leona Victoria Djajadi, MND yang dilansir dari detik.com, bahaya mengonsumsi mie instan secara berlebihan alasannya karena mie instan memiliki kandungan nutrisi yang tidak lengkap. “Walaupun mengenyangkan tetapi tidak bernutrisi” ujarnya.

Satu kemasan mie instan yang disajikan mengandung 400 Kkal atau sekitar 20 persen dari total kebutuhan energi harian. Itulah mengapa makan mie instan secara berlebihan bisa mengakibatkan obesitas. Ini karena secara nutrisi, tubuh akan mudah merasa lapar akibat kebutuhan mikronutrisinya tidak terpenuhi. Ini yang membuat munculnya keinginan ‘mau makan lagi’ untuk memenuhi kebutuhan mikronutrisi tersebut. Menurut ahli gizi, Leona Victoria Djajadi, konsumsi mie instan maksimal 4 kali dalam sebulan atau 1 kali seminggu.

  • Membuang Air Rebusan

Ada dua varian mie instan yaitu mie goreng dan rebus. Untuk mie rebus sebaiknya disajikan dengan mengganti air rebusan mie instan dengan air panas baru. Ini sebagaimana dianjurkan oleh ahli gizi, Victoria Djajadi, “Lebih baik gunakan air rebusan baru atau kaldu buatan sendiri. Karena air cucian pertama biasanya mengandung lebihan pati dan sisa pewarna (kuning)”. Dengan mengganti air rebusan mie dengan air panas baru atau air kaldu dari rebusan daginatau ayam asli, bisa meminimalisir efek buruknya.

Tapi ternyata ada pendapat berbeda dari ahli pangan Prof. Dr. F.G. Winarno, yang menurutnya justru di dalam air rebusan pertama itulah terdapat kandungan zat besi, zinc, vitamin, dan betakaroten tinggi yang dibutuhkan oleh tubuh. Dia menjelaskan pada proses pembuatannya, mie instan telah mengalami proses penambahan zat gizi dan vitamin. Pada saat proses perebusan, zat gizi dan vitamin ini akan larut ke air rebusan. Maka dari itu, air rebusan mie instan justru memiliki kandungan gizi.

  • Batasi Penggunaan Bumbu

Selama ini yang juga dikawatirkan memberikan efek buruk bagi kesehatan tubuh, yaitu kandungan MSG yang ada di bumbu penyebab mie instan. Padahal ternyata anggapan ini tidak benar.

Food Drug Administration (FDA), lembaga kesehatan resmi di Amerika, menyatakan MSG sebagai bahan makanan yang aman digunakan. Keputusan FDA ini juga disepakati oleh World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan Kementerian Kesehatan RI.

Tapi sebaiknya, hindari juga konsumsi MSG secara berlebihan. Penelitian dari American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan meski MSG pada dasarnya tidak membahayakan, tetapi harus waspada terhadap efek samping akibat makan MSG berlebihan.

Terkait dengan penyajian mie instan, bisa diakali dengan tidak menuangkan semua bumbunya, secukupnya saja. Jika merasa masih kurang berbumbu, bisa menambahkan garam yang lebih alami, atau jika kurang pedas bisa ditambah irisan cabe alami. Bisa juga menambahkan bumbu buatan sendiri, seperti dengan menambahkan sedikit garam, bawang putih, bawang merah, lada, dan ketumbar yang dihaluskan.

  • Menambahkan Menu Lain Sebagai Pelengkap

Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Endang L. Achmadi, mie yang ada di kemasan mie instan mengandung bahan utama karbohidrat. Ini tentunya tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi seimbang. Agar kandungan gizi dan nutrisinya sehat, disarankan untuk meracik mie instan dengan cara yang lebih sehat.

Salah satu caranya yaitu dengan menambahkan menu lain agar lebih menyehatkan. Seperti telur, ayam, daging cincang, tahu atau tempe yang mengandung protein. Bisa juga dengan menambahkan sayuran untuk meningkatkan vitamin dan mineral dari sajian mie instan.

  • Mie Instan Cup Styrofoam Aman

Selama ini ada kekhawatiran ketika menyantap mie instan yang dikemas dalam wadah cup yang terbuat dari bahan styrofoam. Ini karena Styrofoam ditengarai terbuat dari bahan yang bisa membahayakan kesehatan jika dijadikan wadah air panas. Padahal ternyata styrofoam atau expandable polystyrene pada kemasan mie instan cup terbuat dari bahan khusus yang aman dipergunakan untuk makanan. Styrofoam jenis ini diproduksi melalui proses yang membuat molekul-molekul styrofoam tidak rontok saat diseduh air panas.

Baca juga : 6 Cara Bikin Kekebalan Tubuh Kembali Naik

  • Mie Instan Tidak Mengandung Lilin

Info mengkhawatirkan lainnya seputar mie instan, yaitu ada yang menyebutkan jika bahan mie mengandung lilin. Ini yang membuat mie saling lengket satu sama lain. Padahal itu karena adanya kandungan minyak di dalam mie. Mie instan dibuat melalui proses deep frying yang membuat kadar air di dalam mie bisa dihilangkan, sekaligus membuat mie instan tetap awet. Proses inilah yang membuat minyak terserap ke dalam mie instan dan akan dikeluarkan saat pemasakan.

  •  Jangan Makan dengan Nasi Putih

Ada kebiasaan dalam menyantap mie instan, yaitu dijadikan pendamping makan nasi. Padahal menu kombinasi ini meski mengeyangkan, tetapi tidak baik. Mie instan dan nasi putih sama-sama sumber karbohidrat yang cukup tinggi.

Satu porsi mie instan mengandung 400 kalori. Dan jika ditambah dengan nasi putih, kandungannya bertambah hingga 700–800 kalori. Padahal untuk kondisi normal membutuhkan 1.700–2.000 kalori per harinya. Apalagi ternyata kombinasi mie instan dan nasi putih juga dapat meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh, sehingga berpotensi terhadap risiko penyakit diabetes serta obesitas.

  • Mie Instan Mengandung Pengawet dan Pewarna, Tapi…

Benar! Mie instan mengandung bahan pengawet. Tapi…masih dalam kondisi aman. Misalnya bahan pengawet pada bumbu kecap yang hanya 1 mg. Padahal batas amannya bisa mencapai maksimal 250 mg. Sedangkan mie pada kemasan mie instan bisa awet karena diproses melalui teknik deep frying pada suhu yang tinggi (140–160 derajat Celcius). Pada suhu ini, dapat dipastikan mikroba akan mati karena kadar air pada mie telah turun hingga 3% saja, dengan begitu makanan tidak akan busuk. Sedangkan untuk warna kuning pada mie memang tidak didapat secara alami. Melainkan ditambahkan zat pewarna makanan Tatrazine (CH940). Zat pewarna ini tergolong food grade yang terbilang aman. Zat pewarna ini juga sudah diberi izin sebagai pewarna makanan secara internasional oleh standar internasional Codex Alimentarius dan World Health Organization, dan secara nasional oleh BPOM RI. Selain pada mie instan, zat pewarna ini juga biasa digunakan pada makanan lainnya seperti kripik, sereal, selai, permen, jeli, , minuman ringan, yogurt dan lainnya.