Covid-19 Belum Aman! Ini Yang Harus Dilakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Aman! Ini Yang Harus Dilakukan

Enam bulan sejak kasus pertama Covid-19 di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020, kasus positif Covid-19 di Indonesia masih mengalami peningkatan. Hal ini diperparah dengan diberlakukannya masa New Normal padahal grafik kasus Covid-19 belum mengalami penurunan. Dan benar saja, bukannya makin berkurang yang terjadi justru lonjakan kasus di masa New Normal.

Baca juga : Jika Mengalami Tanda Ini, Anda Harus Isolasi Mandiri !

Kondisi ini bisa dikatakan ‘It’s Not Ok To Be Ok’. Bagi Anda yang mengikuti drama Korea (Drakor), pasti tidak asing dengan serial berjudul ‘It’s Ok Not To Be Ok’. Mengambil kalimat kebalikannya : ‘It’s Not Ok To Be Ok’ , kira-kira seperti itulah gambaran kondisi Covid-19 di Indonesia. Kondisi dimana masih ‘It’s Not Ok’ padahal sudah 6 bulan pandemi berlangsung yang seharusnya diharapkan kondisi sudah “To Be OK’.

Justru sebaliknya, kondisi pandemi Covid-19 justru malah makin mengkhawatirkan. Setidaknya ini berdasarkan berbagai data perkembangan Covid-19 di Indonesia selama ini.

Positif Covid-19 Meningkat

Dari sejak kasus Covid-19 pertama kali di Indonesia, jumlah yang positif terinfeksi Covid-19 terus saja bertambah, yang ditandai dengan grafik yang terus meningkat. Dilansir dari Kompas.com, jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia hingga per 2 September 2020, terus bertambah dengan grafik yang terlihat terus meningkat. Di mana kini per harinya jumlah orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 3 ribu orang per hari. Ini menandakan pandemi Covid-19 di Indonesia belum terkendali sepenuhnya. Hal ini ditengarai akibat masyarakat yang abai terhadap penularan Covid-19 terutama ketika memasuki masa New Normal.

Positivity Rate Tinggi

Positivity rate adalah rasio antara jumlah orang yang mendapat hasil positif tes Covid-19 dibandingkan dengan total jumlah tes. Di mana menurut Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat tingkat kasus positif atau positivity rate wabah virus Corona di Indonesia kembali mengalami kenaikan. Data terbaru menunjukan positivity rate di Indonesia kini mencapai angka 13,1 persen. Padahal berdasarkan standar dari organisasi kesehatan dunia (WHO) batas aman positivity rate adalah 5 persen. Ini menunjukan tingkat penularan Covid-19 di Indonesia.

Test Covid 19 Rendah

Padahal jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sudah cukup tinggi, namun pada kenyataannya angka tersebut didapat dari hasil tes Covid-19 yang terbilang rendah. Dan kapasitas tes Covid 19 di Indonesia ini menjadi sorotan organisasi kesehatan dunia (WHO). Masih menurut WHO, hanya Provinsi DKI Jakarta satu-satunya wilayah yang memiliki pengujian Covid-19 di atas standar minimum. Menurut standar WHO persentase sampel positif hanya dapat ditafsirkan dengan baik berdasarakan pengetesan 1 per 1.000 penduduk per minggu.

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa harus memeriksa 267.700 orang setiap minggu. “Pada saat ini Indonesia baru mencapai 46,85 persen dari standar WHO tersebut,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Dengan tingkat pengetesan Covid 19 yang masih rendah, bisa diartikan pendeteksian penyebaran Covid 19 di Indonesia belum maksimal, karena bisa jadi masih banyak mereka yang sebenarnya sudah terpapar virus Corona tapi belum terdeteksi. Dan itu menjadi sumber penularan yang bisa makin meluas.

Kapasitas Rumah Sakit Berkurang

Kenaikan kasus mereka yang positif Covid 19 yang meningkat, berdampak pada pemenuhan kapasitas rumah sakit yang juga makin bertambah. Di mana ketersediaan tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sakit rujukan semakin terisi mendekati penuh, terutama di wilayah DKI Jakarta yang penambahan jumlah yang positif Covid 19 terus meningkat efek dari dilakukannya swab test yang masif.

Baca juga : Ini Daftar Tempat Paling Berisiko Tularkan Covid-19

Berdasarkan data yang dipaparkan akun Instagram @dkijakarta, terjadi peningkatan persentase keterisian rumah sakit (RS) rujukan Covid-19. Hingga 30 Agustus 2020, 74 persen dari 4.456 tempat tidur ruang isolasi di rumah sakit rujukan sudah terisi oleh pasien Covid-19. Sementara itu, 81 persen dari 483 tempat tidur ruang ICU di rumah sakit rujukan juga telah digunakan untuk merawat pasien Covid-19. Dengan meningkatnya tingkat keterisian rumah sakit, yang dibarengi dengan masih bertambahnya mereka yang terkonfirmasi positif Covid 19, maka dikhawatirkan rumah sakit tidak lagi mampu menampung pasien Covid 19.

Tenaga Medis Terpapar/Meninggal

Dari sejumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia, di antaranya yaitu para tenaga medis, termasuk dokter. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat lebih dari 100 dokter yang gugur dalam melawan virus corona. Hal ini tentu sebuah kerugian yang besar, karena harus kehilangan tenaga-tenaga kesehatan profesional untuk melayani masyarakat. Belum lagi para tenaga medis lain yang dalam kondisi terpapar Covid-19 dan harus menjalani perawatan. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tenaga medis yang bertugas menangani Covid-19. Padahal tenaga medis adalah garda terakhir melawan virus Corona.

Vaksin Belum Ditemukan

Vaksin menjadi salah satu cara untuk menghentikan penularan Covid-19. Namun saat ini vaksin Covid-19 masih dalam tahap pengembangan dan uji klinis, termasuk di Indonesia. Vaksin yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan uji klinis di Indonesia adalah vaksin Sinovac dari China, vaksin GX-19 dari Korea Selatan dan, vaksin Merah Putih yang dibuat oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Diprediksikan vaksin Covid-19 baru akan tersedia pada pertengahan tahun 2021.

Apa yang Harus Dilakukan?

Di tengah penyebaran Covid-19 di Indonesia yang belum mereda dan belum tersedianya vaksin, tidak ada cara lain selain melakukan tindakan pencegahan dari penularan Covid-19. Caranya yaitu dengan melakukan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Selain itu tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi kondisi terburuk. Yaitu dengan mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan andaikan terpapar Covid-19. Salah satunya layanan kesehatan yang bisa diandalkan membantu untuk sembuh dari Covid-19.

Jangan khawatir, kini ada layanan kesehatan ke rumah yang akan merawat Anda selama melakukan isolasi di rumah, yaitu layanan Corona Care dari Homecare24. Ini adalah layanan khusus penderita Covid-19 dengan gejala ringan sampai sedang dengan layanan perawatan di rumah pasien.


Artikel Lainnya