Hati-hati! Meski Sudah Sembuh, Bisa Kembali Terinfeksi Covid 19

Hati-hati! Meski Sudah Sembuh, Ada Risiko Kembali Terinfeksi Covid 19

Lega rasanya bagi penderita atau penyintas positif Covid-19 ketika dinyatakan sembuh atau sudah berstatus negatif. Bukan apa-apa, selain karena kondisi tubuh kembali sehat, berdasarkan berbagai pengalaman para penyintas Covid 19, pengalaman mereka selama melawan virus baru ini merupakan pengalaman yang tidak mengenakan.

Baca juga : Mengenal Long Covid, Gejala Setelah Sembuh dari Covid 19

Jadi sebisa mungkin lebih baik mencegah agar tidak tertular Covid 19. Dan ini juga berlaku bagi para penyintas Covid 19. Ini karena ketika mereka sudah sembuh, bukan berarti mereka menjadi kebal terhadap Covid 19. Mereka yang sudah pernah terinfeksi, masih memiliki peluang yang sama untuk tertular kembali. Hal inilah yang disebut dengan reinfeksi Covid 19. Bahkan sudah terjadi kasus reinfeksi Covid 19 di Indonesia.

Reinfeksi Covid 19 memang menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran terutama bagi para penyintas. Muncul berbagai pertanyaan, seperti apakah setelah sembuh dari Covid-19 bisa tertular lagi? Berapa lama kekebalan yang dapatkan setelah terinfeksi Covid-19? Apakah bila terinfeksi lagi maka akan semakin parah ? Bagaimana cara mencegah supaya jangan sampai terinfeksi lagi?

Sebenarnya apa itu reinfeksi ? Reinfeksi adalah suatu infeksi oleh yang sama untuk kedua kalinya setelah seseorang sembuh dari infeksi yang pertama. Selain itu ada juga istilah reaktivasi, yaitu munculnya kembali suatu penyakit atau infeksi setelah suatu jeda waktu tanpa gejala dari penyakit tersebut. Lalu apa bedanya reinfeksi dan reaktivasi? Bedanya, pada kasus reinfeksi, susunan materi genetik virus pada infeksi kedua berbeda dengan infeksi pertama, sedangkan reaktivasi virus yang menyerang masih memiliki susunan materi genetic yang sama.

Gejala Reinfeksi Covid 19

Gejala reinfeksi atau infeksi kedua Covid 19 bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga gejala berat, bahkan ada yang sampai meninggal. Hampir separuh (41,67%) dari semua kasus reinfeksi Covid 19 mengalami gejala yang lebih berat pada infeksi kedua. Hanya 16,67% di antaranya yang mengalami gejala yang lebih ringan pada infeksi kedua. 20,83% kasus reinfeksi menunjukkan keparahan gejala yang sama antara infeksi pertama dan kedua. Sayangnya terdapat 20,83% kasus yang tidak memiliki data mengenai gejalanya.

Rata-rata interval terjadinya reinfeksi yaitu 74 hari sejak kesembuhan infeksi ertama hingga munculnya gejala infeksi tedua. Tingkat keparahan gejala pada infeksi kedua tidak bergantung pada tingkat keparahan infeksi pertama.

Baca juga : Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test, Swab Test dan Antigen Test

Hingga saat ini, belum diketahui jelas penyebab reinfeksi ini apakah disebabkan oleh respon imun yang tidak adekuat pada infeksi pertama, respon imun yang menurun seiring waktu, atau faktor dari virus itu sendiri.

Data mengenai respon imun pada infeksi pertama masih terbatas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kadar dan spesifisitas antibody yang terbentuk serta berapa lama kekebalan tersebut bertahan.

Kasus Reinfeksi Covid 19

Beberapa laporan kasus dan publikasi ilmiah di seluruh clunia menunjukkan bahwa sudah terdapat kejadian reinfeksi pada Covid-19, seperti yang diungkap pada Online dictionaries, Journals (Tillett 2020, Kai-Wang To K 2020). Hingga 3 November 2020 terdapat total 24 kasus reinfeksi Covid 19 di berbagai negara, 1 kasus meninggal.

Dan ini sudah terjadi pada kasus seorang pasien wanita berusia 89 tahun berkebangsaan Belanda yang meninggal setelah terinfeksi Covid-19 untuk kedua kalinya. Dia juga menderita penyakit penyerta yaitu kanker darah dan sedang menjalani kemoterapi yang berpotensi menurunkan sistem imun. Gejala infeksi pertama adalah demam dan batuk, setelah dirawat 5 hari pasien dinyatakan sembuh dan pulang. 59 hari sejak gejala infeksi yang pertama (2 hari setelah kemoterapi) pasien mengalami demam, batuk, dan sesak napas. Pasien dirawat di RS dan meninggal 2 minggu kemudian. Diduga kombinasi dari penyakit penyerta dan kemoterapi menyebabkan pasien tidak memiliki respon imun yang kuat untuk melawan infeksi yang kedua.

Di Indonesia belum ada laporan mengenai kasus reinfeksi COVID19. Pada bulan Maret-Oktober 2020 memang terdapat berita mengenai beberapa kasus yang kembali positif Covid 19 bergejala kembali setelah dinyatakan sembuh. Namun tanpa pemeriksaan susunana materi virus (sekuensing genom) , semua kasus etrsebut sejauh ini hanya disebut sebagai “terduga reinfeksi”.

Adanya kasus reinfeksi mengindikasikan bahwa kita tidak dapat bergantung pada imunitas alami. Meskipun terdapat mutasi pada virus SARS-CoV-2 yang terdeteksi pada kasus reinfeksi, bukti ilmiah sejauh ini menunjukkan bahwa vaksin-vaksin yang dikembangkan masih bisa memberikan perlindungan terhadap semua varian yang ada saat ini. Kejadian reinfeksi ini tidak mempengaruhi pengembangan vaksin yang sudah dan sedang berjalan.

Agar tidak terkena reinfeksi Covid 19

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak terkena reinfeksi Covid 19, khususnya bagi para penyintas atau mereka yang sudah sembuh dari Covid 19, antara lain yaitu :

• Memiliki mindset bahwa kejadian reinfeksi Covid 19 adalah nyata adanya dan dapat terjadi pada siapa saja.

• Tetap menerapkan 3M (Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) dan protokol VDJ (Ventilasi, Durasi, Jarak) secara konsisten di manapun, kapanpun, dan saat sedang melakukan kegiatan apapun

• Segera memeriksakan diri ke dokter apabila merasakan gejala kembali setelah dinyatakan sembuh.


Artikel Lainnya