Setelah 10 Bulan, Begini Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia

10 bulan sudah pandemi Covid-19 ‘menyerang’ Indonesia. Berbagai langkah dan upaya sudah dilakukan untuk setidaknya menekan laju penularan virus baru ini. Namun apa daya, penanganan Covid-19 di Indonesia belum terlalu menunjukkan hasil yang menenangkan. Bahkan belakangan ini justru bisa dikatakan sedang mengkhawatirkan. Mengapa bisa demikian, setidaknya bisa terlihat dari beberapa indicator berikut ini :

Baru melakukan tes pada 2,5% populasi

Berdasarkan data dari Worldometer, sampai 23 Desember 2020, Indonesia jika dibandingkan dengan 6 besar negara dengan populasi terbanyak di dunia, paling buruk. Total tes specimen Indonesia terburuk, jumlah tes per 1 juta penduduk paling sedikit, dan persentase tes/populasi paling rendah.

Jumlah Tes Swab PCR masih naik turun

Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa kapasitas tes Swab PCR di Indonesia masih tidak consisten. Selain itu juga di bawah batas standard minimal kapaitas tes untuk Indonesia, yaitu 38.500 tes orang/hari. Saat ini baru mencapai 34.699 orang/hari.

Baca juga : Pertanyaan Penting Seputar Vaksin Covid-19 dan Jawabannya!

Kapasitas Tes Swab PCR Belum Merata

Berdasarakan WHO Situation Report saat ini hanya da 4 provisi yang berhasil memenuhi standar WHO untuk kapasitas jumlah orang dites perhari, yaitu : DKI Jakarta, Yogyakarta, Sumatera Barat dan Kalimantan Timur. Namun sayangnya, belum ada yang dapat menekan angka positive rate yang masih cukup tinggi.

Selain itu persebaran laboratorium rujukan masih terpusat di pulay Jawa. Sebanyak 296 dari 542 lab atau 55% lab covid berada di pulau Jawa. Jatim punya lab teranyak, yaitu 86 lab. Kalimantan Utara , Gorontalo dan Sulawesi Tenggara paling sedikti, yaitu 2 lab

Hanya 50% Suspek Yang Dites

Dalam 1 bulan terakhir suspek terus meningkat. Namun dari jumlah suspek tersebut, hanya 50% yang melakukan dites. Ini berarti lainnya bisa berpotensi menularkan Covid-19.

Positif Rate Tinggi

Positif Rate Tinggi menunjukan jumlah yang positif dari sejumlah orang yang dites Covid-19. Pada minggu menjelang akhir tahun, rata-rata positive rate mencapai 22%, ini berarti kurang lebih 1 dari 5 orang yang dites, hasilnya positif.

Hasil Testing Lama

Sudah 10 bulan, namun masih ada permasalah menunggu hasil Swab PCR yang memakan waktu lama. Bahkan ada yang mencapai seminggu dari mulai pengambilan sampel hingga keluar hasil. Padahal standar WHO adalam 24–48 jam.

Testing Lemah

Tests People atau jumlah orang yang dites harian Indonesia baru 88,5% standar MINIMAL dari WHO untuk Indonesia (34.060 berbanding 38.500). Apalagi 49% tes ada di DKI Jakarta, menunjukkan tidak meratanya testing di Indonesia. Isu utama Testing adalah kapasitas rendah, tidak merata dan produksi hasil yang lama (Standar WHO < 48 jam ada hasil).

Tracing Lemah

Kemampuan Tracing (Rasio Lacak Isolasi — RLI) Indonesia sangat lemah yaitu 1,48 ; jauh dari Standar WHO yaitu >30. Artinya setiap kasus positif hanya dilakukan pelacakan dan isolasi terhadap 3 orang. Sebagai perbandingan RLI SIngapore adalah 70. Sistem zonasi yang tidak membatasi mobilitas juga memperlemah tracing. Testing dan Tracing yang lemah akan membuat bias atau ilusi dalam dalam hal analisa data dan penentuan kebijakan.

Baca juga : Sakit Mata dan Delirium Jadi Gejala Baru Covid-19

Treatment Rendah

Tingkat Kesembuhan (Recovered Rate) bukan satu-satunya indikator keberhasilan sebuah Negara menangani Pandemi. Recovered Rate Indonesia masih jauh lebih buruk daripada sesama negara Asia Tenggara (90%-an). Recovered Rate di Indonesia mencapai 82%. Tingkat kematian atau fatality rate sebesar 3% dan Positive Rate mencapai sekitar 20%. Di mana menurut WHO idealnya Recovered Rate > 73,9% , Tingkat kematian < 3% , Positive Rate < 5%.

Imbas Jumlah Positif Covid-19 Meningkat

Hingga saat ini Active Cases Indonesia mencapai 108.269 pasien positif terpapar Covid-19. Hal ini membuat Bed Occupancy Rate (BOR) RS Indonesia menyentuh 62,4% (Standar WHO <60%). Pada beberapa daerah bahkan kapasitas rumah sakit sudah penuh dan tidak lagi mampu menampung penderita Covid-19. Dan celakanya itu juga berimbas pada kematian 467 Nakes hingga saat ini.

Kepatuhan Protokol Kesehatan Menurun

Tren kepatuhan menggunakan masker dan menjaga jarak terlihat mulai menurun, terutama sejak libur panjang pada akhir Oktober 2020. Berdasarkan data dari situs resmi Covid-19 di Indonesia (www.covid19.go.id), persantase kepatuhan individu yang memakai masker hanya 58.32% dan yang menjaga jarak 43,46%. Selain itu tingkat mobilitas penduduk Indonesia di beberapa bulan terakhir juga kembali tinggi, yang berimbas pada potensi penularan yang makin besar.

Berbagai data indicator tersebut bukan dimaksudkan untuk tidak menghargai berbagai berbagai upaya penanganan Covid-19 di Indonesia selama ini. Tapi lebih untuk pengingat bahwa pandemi ini masih belum mereda, jangan sampai lengah.


Artikel Lainnya