Blog Tentang Edukasi Kesehatan | Homecare24

Saya Vika. Saya adalah seorang perawat. Kali ini saya ingin membagi pengalaman ketika mengunjungi  pasien pada awal Oktober 2018 kemarin. Pasien yang saya kunjungi ini biasa dipanggil Andung. Usianya 75 tahun.

Dia terdiagnosa kanker paru sejak beberapa tahun lalu. Kini, kankernya sudah menyebar ke tulang, bahkan otak. Andung sudah dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta terhitung sejak dua pekan lalu. Penyebabnya, penurunan kondisi pasca-kemoterapi.

Saat itu, saya datang karena ingin mengecek kondisinya. Saat tiba di rumah sakit, saya melihat sosok Andung seperti nenek saya sendiri. Naluri menggerakan bibir saya untuk melempar senyum kepada Andung. Kemudian saya menyapanya.

Andung pada awalnya diam. Tak membalas senyum. Tapi, tak sampai satu menit, wajahnya merekah dan melontarkan senyuman kepada saya. Dia juga memandangi wajah saya cukup lama.

“Ini senyum pertama Andung selama dua pekan dirawat di rumah sakit,” ujar anak sulung Andung. “Aku, anaknya sendiri saja belum pernah lihat senyum Andung. Boro-boro senyum, melihat anaknya sendiri saja, bahkan suster ruangan, buang muka.”

Awalnya, saya tidak percaya dengan apa yang diucapkan anak pertama Andung itu. Dalam hati saya berfikir, “Ah ini mungkin cuma basa-basi pihak keluarga saja terhadap tamu yang datang.”

Namun, ketidak percayaan saya runtuh saat suster ruangan yang saban hari menjaga Andung mengatakan, “Duh! Andung cantik banget kalau senyum, coba dari dulu senyum, curang nih, ke saya nggak pernah senyum, malah senyumnya ke Mbak yang ini. Tips nya apa sih, Mbak?” kata perawat ruangan kepada saya.

Saya sejenak terdiam. Dan sebenarnya bingung menjawab pertanyaan perawat ruangan itu tentang tips agar Andung bisa tersenyum. 

Belum juga aku menjawab. Suster ruangan itu langsung menambahkan, “Tapi bener lho, Mbak! Aku beneran belum pernah disenyumin Andung selama dirawat di sini. Mbak ini kelihatan ya perawat banget, emang passionnya merawat ya? Jadi mungkin Andung bisa tahu itu dan seneng juga sama Mbak, ya.”

Pernyataan suster ruangan itu membuatku semakin memutar otak dan mencari penyebab Andung melontarkan senyuman spesial untuk saya. Susah mencari jawaban yang pasti kenapa Andung tersenyum kepada saya.

Tapi satu hal yang saya tekankan. Senyum Andung adalah refleksi dari energi positif yang terpancar dari diri saya. Energi positif itu kemudian diterima Andung dengan baik dan membuat wajahnya merekah dengan senyuman bahagia. 

Penyebabnya adalah karena ketika kali pertama saya melihat Andung, saya langsung memikirkan kasih sayang nenek saya sendiri. Bukan lagi melihat Andung sebagai seorang pasien.

Andung tak hanya tersenyum kepada saya. Dia juga memegang erat tangan saya. Seolah seperti berkata, “Terima kasih atas energi positif yang kamu berikan kepadaku.”

“Yes! Because we care people!”


Ditulis Oleh: Vika Rachma Sari


Apakah anda menyukai artikel ini?