Pada tahun 2017 dunia sempat dihebohkan oleh berita dari Selena Gomez yang membagikan kisah di akun Instagram pribadinya bahwa dia melakukan transpalasi ginjal. Selena juga menceritakan kalau sebelumnya dia telah menjalani kemoterapi karena penyakit lupus yang dideritanya sejak tahun 2015. Di Amerika Serikat, negara Selena Gomez, tercatat sekitar 1,5 juta penduduk Amerika Serikat terjangkit lupus dan hampir 90% adalah wanita pada usia produktif sekitar 18-44 tahun. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2018, diperkirakan ada 1,25 juta penduduk menderita lupus.

Banyaknya penderita lupus, tidak disertai dengan kesadaran masyarakat akan penyakit ini. Belum banyak yang mengenal lupus, penyakit yang diam-diam mengintai tubuh dan sangat berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian. Lupus eritematosus ialah penyakit inflamasi autoimun kronis yang menyerang sistem imun, sel, jaringan dan kekebalan tubuh seseorang. Penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan pada sel darah, paru-paru, sendi, kulit dan jantung.  Penyakit lupus terjadi saat tubuh telah memproduksi antibodi dengan jumlah yang sangat besar. Dalam kondisi normal, antibodi memiliki peran untuk menjaga tubuh dari masuknya virus dan bakteri penyebab penyakit. Namun, pada penderita lupus antibodi justru menyerang tubuhnya sendiri dengan merusak sel-sel sehat di dalamnya. Hal ini mengakibatkan penderita lupus sering mengalami peradangan dan infeksi pada sistem jaringan tubuhnya.


Seberapa Bahayakah Lupus?

Penyakit lupus sangatlah berbahaya. Tingkat bahaya penyakit ini disetarakan dengan penyakit kanker dan HIV. Karena pada penderita lupus sistem imun merekalah yang akan menyerang organ-organ penting dalam tubuh. Jika dibiarkan maka akan terjadi peradangan atau infeksi dan berakhir dengan kematian. Selain itu, lupus juga dapat meningkatkan resiko seseorang menderita kanker, kematian jaringan tulang. Jika ibu hamil mengidap lupus, maka akan berisiko mengalami keguguran, kelahiran prematur hingga preeksklamsia yang tentunya akan membahayakan bagi si ibu itu sendiri.


Penyebab Terjadinya Lupus

Walaupun hingga saat ini faktor penyebab terjadinya lupus belum dapat teridentifikasi, namun kita bisa mengetahui pemicu terjadinya penyebaran lupus, yaitu:

  1. Faktor Genetik menjadi pemicu terbesar penyebaran penyakit ini. Diduga penderita penyakit lupus disebabkan karena ada salah satu anggota keluarganya menjadi penderita lupus juga.

  2. Faktor Hormonal. Manusia memiliki salah satu hormon yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh yaitu esterogen. Namun, wanita memiliki hormon esterogen lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal ini yang menyebabkan wanita lebih banyak terjangkit penyakit lupus ketimbang laki-laki. Terutama pada wanita yang memasuki tahap pubertas atau sedang menjalankan masa kehamilan di mana kadar hormon estrogennya tinggi.

  3. Lingkungan. Beberapa hal yang dapar memicu lupus adalah bakteri dan virus Epstein Barr, stress, merokok, alcohol, paparan sinar ultra violet yang tinggi, atau menggunakan zat kimia berbahaya seperti merkuri.


Gejala Lupus

Karena lupus dapat menyerang organ vital, maka gejala yang disebabkannya pun tergantung dari organ mana yang diserangnya. Namun, terdapat gejala umum yang dapat dideteksi, yaitu:

  1. Rasa lelah yang berlebihan sekalipun penderita hanya melakukan kegiatan sederhana yang tidak meguras banyak tenaga. Walaupun sudah melakukan istirahat namun penderita lupus tetap merasakan kelelahan yang berkepanjangan.

  2. Ruam pada kulit termasuk ciri orang menderita lupus. Tersebar dari batang hidung hingga tulang pipi, atau bahkan bisa menyebar hingga pergelangan tangan yang akan terasa perih ketika terpapar sinar matahari.

  3. Nyeri pada persendian yang biasanya menyerang di pagi hari. Lupus yang menyerang persendian tidak akan mengalami cacat persendian permanen, namun penderita akan merasakan ketidaknyamanan saat melakukan kegiatan sehari-hari karena persendian yang nyeri.

Jika mengalami gejala di atas hingga waktu yang lama, ada baiknya segera melakukan konsultasi ke dokter agar secepatnya mendapatkan penanganan medis yang tepat.


Cara Pengobatan

Karena lupus berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang dapat menyerang organ dalam tubuh, biasanya dokter akan memberikan:

  1. Imunosupresan, yaitu obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Namun, obat ini memliki efek samping. Saat sistem kekebalan tubuh kita ditekan maka tubuh pun akan mudah terserang bakteri dan virus sehingga mudah terjadi infeksi. Selain itu, penggunaan obat ini dalam jangka waktu jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.

  2. Obat antiinflamasi nonsteroid. Biasanya dokter akan meresepkan  obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen dan diclofenac untuk mengurangi gejala nyeri persendian. Efek samping dari penggunaan obat ini adalah pendarahan lambung, masalah pada ginjal dan gagal jantung.

  1. Rituximab. Jika obat-obat lain tidak efektif bagi penderita lupus, dokter akan menganjurkan rituximab. Obat ini awalnya dikembangkan untuk menangani kanker. Cara kerja rituximab adalah dengan mengincar dan membunuh sel B, yaitu sel yang memproduksi antibodi yang menjadi pemicu gejala lupus. Obat ini akan diberikan melalui infus. Efek samping yang dapat muncul dari penggunaan rituximab meliputi pusing, muntah, serta gejala yang mirip flu, misalnya demam dan menggigil. Obat ini juga dapat menimbulkan reaksi alergi, namun jarang terjadi.

Walaupun hormon estrogen menjadi salah satu pemicu lupus yang mengakibatkan wanita rentan terserang lupus, namun tidak perlu takut. Tetaplah berpikir positif. Ini bukan perihal wanita ataupun laki-laki. Karena penyakit lupus dapat menginfeksi siapapun terlepas dari jenis kelamin.

Menjaga lingkungan yang sehat, bebas stress, hindari rokok dan alkohol serta hindari paparan sinar matahari langsung dapat membantu mengurangi pemicu terjadinya lupus. Oh, ya, jangan lupa mengaplikasikan tabir surya dengan SPF di atas 30 untuk membantu kulit menangkal terjadinya radikal bebas dan bahaya paparan sinar ultraviolet ya, Carepeople!


Referensi

  1. Selena Gomez Sudah Menderita Penyakit Lupus Sejak 2015. (2017, September 15). Retrieved from https://kumparan.com/@kumparanhits/selena-gomez-sudah-menderita-penyakit-lupus-sejak-2015

  2. Lupus Penyakit Seribu Wajah. (2011, Oktober 6). Retrieved from www.depkes.go.id/article/view/1670/lupus-penyakit-seribu-wajah.html

  3. Situasi Lupus Di Indonesia. (2017, Juni 9). Retrieved from http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin-Lupus-2017.pdf




Apakah anda menyukai artikel ini?