Blog Tentang Edukasi Kesehatan | Homecare24

Nama saya Thifal. Saya adalah seorang perawat. Kali ini, saya ingin bercerita pengalaman  saya bekerja di Homecare24. Pengalaman paling berkesan selama hidup saya dan menjalani profesi sebagai perawat.

Di sebuah senja pada awal September 2018, saya mengunjungi seorang pasien. Namanya Ibu Indah.  Dia berusia 51 tahun dan terdiagnosa  stroke serangan pertama. Saat saya ke rumahnya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ibu Indah terkulai lemah dan terbaring di tempat tidur.

Gurat wajah Ibu Indah, mengingatkanka saya pada sosok ibu kandung saya sendiri yang usianya sama dengannya. Saya langsung mendekat ke arah Ibu Indah dan menanyakan kondisinya. Ibu Indah ini menjalani perawatan di rumah pascadirawat di rumah sakit selama lebih dari sepekan.

“Saya dulu sangat aktif, namun sekarang tidak bisa apa-apa,” begitu kata Ibu Indah dengan suara lirihnya. “Ya beginilah perawat. Terlalu peduli dan berhati-hati akan kesehatan orang di sekitarnya. Namun tidak dengan dirinya.”

Saya terdiam . Mencerna dan memaknai apa yang dikatakan Ibu Indah. Ternyata. Ibu Indah dulunya berpforesi sebagai perawat. Sama seperti saya.  Ada benarnya juga apa yang dikatakan Ibu Indah. Profesi sebagai perawat, terkadang membuat saya mengabaikan kesehatan untuk diri saya sendiri.

Kami terlalu sibuk memikirkan kesehatan orang lain. Tanggung jawab dan pengabdian serta sumpah seorang perawat untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat sudah mendarah daging bagi kami. Saking menikmatinya profesi sebagai perawat, saya pun kadang sampai lupa makan, dan hal-hal lain yang merusak kesehatan diri sendiri.

Tak begitu lama saya terdiam memaknai kata-kata yang dilontarkan Ibu Indah. Obrolan kami lanjutkan kembali. Sedikit demi sedikit, saya berupaya membangkitkan lagi semangat Ibu Indah. Semangat seorang perawat yang tak padam meski stroke menyerangnya. Kami pun mulai menyusun rencana pemulihan Ibu Indah untuk sebulan ke depan.

“Thifal, saya ingin segera bisa lari lagi,” kata Ibu Indah kepada saya. “Hai kaki dan tangan, kamu boleh istirahat dulu ya sebentar, ambil cuti tahunanmu. Sebentar lagi kita akan bareng lagi. Kita lari! Ayo! Kita tunjukkan ke Thifal kalau kita bisa,” ujar Ibu Indah berbicara kepada kaki dan tangannya yang sudah tak bisa bergerak lagi. 

Mendengar ucapan Ibu Indah itu saya senang. Ibu Indah masih optimistis kedua kaki dan tangannya bisa difungsikan kembali seperti dulu.

Harapan Ibu Indah untuk sembuh begitu besar. Semangatnya terpancar begitu terang. Kedatangan saya membuat Ibu Indah semakin memiliki harapan hidup yang tinggi. Di akhir pertemuan, Ibu Indah memeluk erat tubuh saya sembari berkata, “Terima kasih, Thifal, atas semangat dalam setiap kata-kata yang kamu ucapkan demi kesembuhan Ibu.” 

 “Yes! Because we are care people!”


Ditulis Oleh: Fairuz Thifal Ariqoh Iriandi


Apakah anda menyukai artikel ini?